
KARANGASEM – Deretan karangan bunga tertata rapi di sepanjang pelataran. Alunan gamelan mengiringi langkah para undangan yang hadir. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa dalam perayaan ulang tahun ke-75 I Gusti Made Tusan.
Bukan sekadar syukuran keluarga, perayaan itu menjadi ruang berkumpulnya banyak tokoh penting Karangasem. Jajaran Forkopimda, kepala OPD, tokoh masyarakat, sahabat, hingga relasi hadir memberikan ucapan selamat kepada sosok yang selama ini dikenal sebagai figur sederhana dan disegani.
Perhatian seketika tertuju pada satu momen sederhana namun sarat makna saat putra sulungnya, Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata bersama Wakil Bupati Pandu Prapanca Lagosa (Guru Pandu ) menghampiri untuk memberi ucapan selamat.
I Gusti Made Tusan menggenggam tangan keduanya erat. Dengan suara pelan, ia menyampaikan kalimat singkat yang langsung memancing senyum para hadirin.
“Gus Par–Guru Pandu dua periode.” Kalimat itu meluncur sederhana. Namun, maknanya terasa begitu dalam.
Tepuk tangan spontan pecah dari para tamu yang hadir. Sebagian tersenyum, sebagian lainnya mengangguk pelan, seolah memahami bahwa ucapan itu bukan sekadar selipan hangat dalam suasana ulang tahun.
Itu adalah doa seorang ayah. Di usianya yang ke-75, suami I Gusti Ayu Mas Sumatri ini tak hanya merayakan pertambahan umur. Ia tengah menyaksikan perjalanan pengabdian anak-anaknya, khususnya dalam melayani masyarakat Karangasem.
Harapan yang ia sampaikan menjadi simbol restu agar pengabdian itu terus berlanjut. Bagi seorang ayah, tak ada kebahagiaan yang lebih besar selain melihat nilai-nilai yang ia tanamkan tumbuh dalam diri anak-anaknya.
Bupati Karangasem I Gusti Putu Parwata tampak tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia mengenang sosok ayahanda sebagai figur yang mengajarkan arti keteguhan dan keikhlasan.
“Ajik selalu mengajarkan kami tentang keteguhan, kesederhanaan, kerja keras, dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Nilai-nilai itulah yang terus kami pegang hingga hari ini. Beliau adalah inspirasi besar bagi keluarga kami,” ujar Gus Par.
Ia menegaskan, doa dan restu orang tua adalah kekuatan terbesar dalam setiap langkah pengabdian.
“Bagi kami, doa orang tua adalah energi yang tak ternilai. Apapun yang kami lakukan untuk Karangasem, semua berangkat dari restu beliau. Semoga kami selalu diberi kemampuan untuk menjaga amanah dan terus bekerja tulus untuk masyarakat,” tuturnya.
Perayaan pagi itu berlangsung meriah namun tetap khidmat. Suguhan sendratari khas Bali dan penampilan artis-artis lokal Karangasem menambah semarak suasana. Tawa, ucapan selamat, dan obrolan hangat berbaur dalam nuansa kekeluargaan yang kental.








