
DENPASAR – Semrawutnya kabel utilitas di ruang publik dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan lemahnya tata kelola dan penegakan aturan pemerintah daerah. Hal itu ditegaskan Komisaris Telkom Rizal Malarangeng saat menanggapi polemik kabel udara yang menjuntai di berbagai kota, termasuk Denpasar.
Rizal menegaskan, kabel yang terlihat semrawut di jalanan bukan hanya milik satu operator. Di lapangan, jaringan tersebut berasal dari berbagai penyedia layanan, mulai dari telekomunikasi, kelistrikan, hingga internet swasta.
“Jangan selalu dituding Telkom. Di situ ada kabel Telkom, kabel PLN, MyLink, dan provider lain. Sekarang ini bukan cuma satu pemain,” tegasnya Rizal disela kegiatan ketemu awak media saat pelatihan jurnalistik di Denpasar, Jumat (6/2/2026).
Menurut Rizal, akar persoalan justru terletak pada tidak tegasnya aturan dan spesifikasi teknis dari pemerintah daerah. Tanpa regulasi yang jelas dan konsisten, penataan kota menjadi tambal sulam dan merusak wajah kota.
“Ini bukan semata tugas Telkom atau PLN. Pemerintah daerah harus tegas menentukan spesifikasi dan menegakkan aturan. Kalau melanggar, ada konsekuensinya,” ujarnya.
Ia mencontohkan kawasan Kuningan, Jakarta, sebagai gambaran kegagalan penataan kota. Proyek infrastruktur yang mangkrak, besi beton terbuka berbulan-bulan, serta kabel yang dibiarkan menjuntai dinilai sebagai “monumen kegagalan” pembangunan perkotaan.
“Kita lewat tiap hari, yang kita lihat bukan keindahan dan simbol kemajuan, tapi kekacauan. Kota jadi sakit,” katanya.
Rizal menegaskan, solusi jangka panjang adalah menurunkan kabel utilitas ke bawah tanah, meski berbiaya tinggi dan penuh konsekuensi.
“Harus dipecahkan secara serius dan optimistis. Kabel harus ke bawah tanah, apa pun konsekuensinya,” tegasnya.
Internet Aman, Telkom Siapkan Backup Berlapis
Menanggapi kekhawatiran publik soal potensi gangguan layanan akibat penataan kabel, Rizal memastikan keandalan jaringan nasional tetap terjaga. Ia menjelaskan, hampir 90 persen lalu lintas internet nasional bertumpu pada jaringan kabel bawah laut yang membentang ratusan ribu kilometer di Indonesia dan dilengkapi sistem cadangan.
“Internet putus jangan khawatir. Hampir 90 persen kita pakai handphone itu dibawa oleh kabel bawah laut, dan itu ada backup-nya,” jelas Rizal.
Ia mengungkapkan, tantangan justru terjadi di wilayah tertentu seperti Merauke, Papua. Di kawasan tersebut, kabel laut berada di perairan dangkal sehingga rentan terhadap aktivitas nelayan.
“Kalau di laut dalam 1.000 sampai 3.000 meter tidak kena kapal. Tapi Merauke itu lautnya 3–5 meter, beda dengan Laut Jawa yang 30 meter. Di Merauke, kabel kami pernah putus karena jangkar nelayan,” ungkapnya.
Padahal, kata Rizal, Merauke sangat bergantung pada konektivitas digital. Layanan transportasi daring hingga aktivitas ekonomi harian masyarakat bergantung penuh pada internet.
“Merauke tidak mungkin tanpa digitalisasi. Ojol saja contohnya, banyak Grab hidupnya harian tergantung internet. Tapi kalau kabel putus, perbaikannya bisa dua sampai tiga bulan,” ujarnya.
Sebagai solusi, Telkom menyiapkan sistem cadangan berbasis satelit. “Kita pasang gateway Starlink. Jadi begitu kabel putus, ada pengganti,” kata Rizal.
Ia menambahkan, untuk kota-kota besar seperti Jakarta, gangguan jaringan biasanya bersifat sementara dan cepat dipulihkan. Telkom juga memastikan tidak akan terjadi pemadaman internet massal seperti yang terjadi di beberapa negara lain.
“Kalau Jakarta putus sebentar, tidak akan lama. Kasus seperti Iran, internet dimatikan saat demo besar-besaran, itu beda. Kita jamin tidak ada black out seperti itu. Bahkan skenario bencana alam pun sudah dipikirkan,” tegasnya.
Rizal menegaskan, Telkom mendukung penuh pendataan dan penataan kabel utilitas, termasuk kebijakan pemindahan jaringan ke bawah tanah di Kota Denpasar. Namun ia kembali menekankan, kunci utama tetap berada pada keberanian pemerintah daerah dalam menegakkan aturan.
“Intinya, Telkom mendukung penataan kabel semrawut, termasuk di Denpasar. Tapi kepemimpinan dan penegakan aturan tetap ada di tangan pemerintah daerah,” pungkasnya. (sur)








