
KLUNGKUNG – Pemkab Klungkung gagal mempertahankan Nusa Penida Festival (NPF) masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Keputusan ini memantik kekhawatiran melemahnya promosi pariwisata Nusa Penida sekaligus menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam menjaga daya saing destinasi unggulan daerah.
Berdasarkan Pengumuman Karisma Event Nusantara 2026 tertanggal 15 Januari 2026 dan Keputusan Menteri Pariwisata Nomor SK/2/HK.01.02/MP/2026, NPF dinyatakan tidak lolos proses kurasi. Padahal, festival tahunan tersebut selama ini dipandang sebagai salah satu ajang promosi yang mendukung kunjungan wisatawan dan perputaran ekonomi lokal.
Absennya NPF dari kalender KEN 2026 memunculkan beragam respons dari pelaku pariwisata. Ketua PHRI Kabupaten Klungkung, Putu Darmaya, menyayangkan keputusan tersebut karena dinilai menghilangkan peluang promosi nasional hingga internasional yang difasilitasi Kementerian Pariwisata.
Menurutnya, proses penilaian Kementerian Pariwisata kemungkinan hanya melihat satu lokasi, padahal NPF digelar di tiga tempat berbeda.
“Mungkin penjelasan dan pengemasan dari tim pemerintah kurang maksimal. Padahal kami pelaku hotel, restoran, dan travel sudah all out mempromosikan Nusa Penida,” ujar Darmaya, Minggu (25/1/2026).
Meski mengakui dampak NPF terhadap industri pariwisata belum terlalu besar, Darmaya menilai festival tersebut tetap memberi manfaat bagi pelaku UMKM lokal, pelabuhan, dan perusahaan lokal. Ia juga mempertanyakan mengapa agenda pendukung seperti table top dan FGD pariwisata berkelanjutan tidak diperlihatkan kepada tim kurator pusat.
Pandangan berbeda disampaikan pelaku pariwisata lainnya, Wayan Yadnya. Pengelola Green Kubu ini justru menilai NPF tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasar internasional dan lebih bersifat hiburan masyarakat.
“Saya setuju NPF hilang dari KEN karena tidak memberikan dampak promosi pariwisata secara holistik. Dari tahun ke tahun hanya menjadi hiburan rakyat,” tegasnya.
Yadnya menilai NPF belum mampu membangun brand awareness Nusa Penida sebagai destinasi wisata dunia. Ia membandingkan dengan Ubud Retreats Festival yang dinilainya lebih efektif menyasar pasar internasional.
Ia pun menyarankan pemerintah daerah agar lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, air bersih, serta penanganan sampah sebagai prasyarat utama pariwisata berkelanjutan.
“Kalau infrastruktur dasar tertangani, promosi akan berjalan dengan sendirinya. Setiap wisatawan adalah media promosi,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Klungkung, Gusti Agung Gede Putra Mahajaya, mengaku belum mengetahui secara pasti alasan NPF tidak masuk kalender KEN 2026. Namun, hal tersebut akan dijadikan bahan evaluasi agar festival ke depan lebih tepat sasaran.
“Tidak masuk KEN bukan berarti tidak ada promosi. Kalau kita bisa mandiri melakukan promosi justru lebih baik,” jelasnya.
Mahajaya memastikan NPF tetap akan digelar pada 2026 dengan konsep yang lebih berkualitas. Pemkab Klungkung juga akan meminta penjelasan resmi dari pemerintah pusat sebagai dasar perbaikan ke depan.
Sebagai informasi, KEN merupakan program Kementerian Pariwisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan perekonomian daerah. Di Bali, terdapat tujuh festival yang masuk kalender KEN 2026, yakni Jatiluwih Festival, Festival Semarapura, Penglipuran Village Festival, Lovina Festival, Taman Ayun Barong Festival, Pemuteran Bay Festival, serta Pesta Kesenian Bali. (yan)








