
KLUNGKUNG – Bencana tanah longsor seolah mengepung Pulau Nusa Penida. Dalam hitungan jam pada Rabu dini hari (21/1/2026), dua pura suci di wilayah berbeda dilaporkan tertimbun material longsoran dan mengalami kerusakan berat, menyusul hujan deras berkepanjangan yang mengguyur kawasan tersebut.
Selain merusak bangunan sakral, longsor juga menghancurkan rumah warga. Total kerugian material akibat rangkaian bencana ini ditaksir menembus lebih dari Rp1,2 miliar.
Peristiwa pertama terjadi sekitar pukul 02.30 Wita di Pura Segara Banjar Prapat, Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida. Hujan lebat disertai angin kencang memicu pergerakan tanah di kawasan pesisir yang berstruktur pasir dan labil. Akibatnya, bangunan pura roboh, disusul dua bangunan milik warga yang berada di sekitar lokasi longsoran.
Sebanyak empat pelinggih utama Pura Segara Banjar Prapat dilaporkan roboh total. Pengempon pura memperkirakan kerugian material mencapai sekitar Rp250 juta. Selain itu, rumah milik I Ketut Roni Saputra, warga Banjar Prapat, mengalami kerusakan cukup parah dengan estimasi kerugian sekitar Rp30 juta.
Bangunan milik warga lainnya, I Ketut Warta, seorang petani setempat, juga terdampak. Longsor merobohkan satu pelinggih Penunggun Karang beserta penyengker rumahnya, dengan kerugian ditaksir sekitar Rp15 juta.
Saat kejadian, sejumlah warga terbangun dari tidur setelah mendengar suara gemuruh dan merasakan getaran tanah. Menyadari adanya pergerakan tanah, mereka langsung menyelamatkan diri ke luar rumah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Belum selesai penanganan di Desa Ped, bencana serupa kembali terjadi sekitar pukul 04.00 Wita di Pura Ulun Danu Banjar Penida, Desa Sakti. Longsor berasal dari bukit di sisi pura setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak sore hingga malam hari.
Material tanah dan batu dari bukit langsung menimpa area pura, mengakibatkan sebagian besar pelinggih mengalami kerusakan berat. Menurut informasi Kelian Pura Ulun Danu Banjar Penida, I Made Budiarna, longsoran datang secara tiba-tiba sehingga tidak sempat dilakukan upaya penyelamatan bangunan.
Kerugian material akibat rusaknya Pura Ulun Danu Banjar Penida diperkirakan lebih dari Rp1 miliar, menjadikannya salah satu bencana longsor dengan dampak kerugian terbesar di Nusa Penida dalam beberapa waktu terakhir.
Kapolsek Nusa Penida Kompol Ketut Kesuma Jaya, S.H., membenarkan rangkaian kejadian tersebut. Ia menyebut intensitas hujan yang tinggi, ditambah kondisi geografis Nusa Penida yang didominasi tebing curam dan tanah berpasir, membuat wilayah ini sangat rawan longsor.
“Tidak ada korban jiwa, namun kerusakan material cukup besar, terutama pada bangunan pura yang memiliki nilai spiritual dan budaya tinggi bagi masyarakat,” ujarnya.
Kejadian serupa juga terjadi di Pura Paibon Bhujangga Waisnawa Banjar Senangka, Desa Sakti. Bangunan piyasan pura setempat romboh diterjang angin.
Warga diimbau tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi. Penanganan lanjutan dari instansi terkait sangat dibutuhkan, baik untuk pembersihan material longsor, penataan kawasan rawan, maupun rehabilitasi bangunan pura yang rusak berat. (yan)








