
GIANYAR – Peringatan Hari Suci Siwaratri di lingkungan Pemkab Gianyar dimaknai sebagai momentum perenungan spiritual untuk menaklukkan sifat-sifat gelap dalam diri manusia. Melalui dharma wacana yang digelar di Padmasana Kantor Bupati Gianyar, Sabtu (17/1/2026) malam, umat Hindu diajak mengendalikan hawa nafsu dan membersihkan batin dari sifat negatif.
Ida Pedanda Manggis Putra Jelantik dari Gria Manggis Manuaba, Gria Manggis Manuaba, Banjar Wanayu, Blahbatuh, Gianyar dalam dharma wacananya, mengulas pemaknaan Siwaratri yang bersumber dari Kekawin Siwalatri Kalpa.
Ia menjelaskan, kisah Lubdaka sebagai pemburu bukan dimaknai secara harfiah, melainkan simbol perjalanan spiritual manusia.
“Berburu dalam konteks Siwaratri dimaknai sebagai upaya membunuh sifat-sifat buruk yang bersemayam dalam diri manusia,” ujarnya.
Ida Pedanda menuturkan, binatang buruan seperti harimau, babi hutan, gajah, dan badak merupakan simbol karakter negatif manusia.
Harimau melambangkan amarah dan kekerasan, babi hutan simbol keserakahan, gajah melambangkan ego dan kesombongan, sementara badak mencerminkan kerasnya hati dan tumpulnya nurani. Menaklukkan simbol-simbol tersebut berarti menundukkan sifat-sifat negatif yang menjadi sumber penderitaan.
Lebih lanjut dijelaskan, perubahan Lubdaka dari pemburu menjadi pribadi yang disucikan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan menaklukkan makhluk lain, melainkan menjinakkan sifat liar dalam diri sendiri.
Hadir dalam kegiatan ini Asisten Administrasi Umum Setda Gianyar I Ketut Pasek Lanang Sadia, anggota DPRD Gianyar, para kepala OPD, serta perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Gianyar yang diwakili Kasi Urusan Agama Hindu Ida Bagus Rai Supada. (dar,yan)








