
GIANYAR – Di sebuah sudut tenang Banjar Lodsema, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, terdengar denting halus pahat dan temutik kayu berpadu dengan aroma serbuk majegau. Di sanalah I Nyoman Yutdiarta, seorang perajin sarung keris Bali, menekuni pekerjaannya dengan ketulusan dan kesabaran yang diwariskan turun-temurun.
Sejak tahun 1970-an, Yutdiarta telah mengabdikan hidupnya pada seni pembuatan sarung keris.
“Kerajinan ini sudah saya tekuni sejak dulu, diwariskan dari ayah saya sejak tahun 1970-an. Dulu saya belajar langsung dari beliau, lalu saya teruskan sampai sekarang,” tutur Yutdiarta saat ditemui, Senin (20/10/2025).
Bagi Yutdiarta, membuat sarung keris bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan perjalanan batin. Setiap goresan pahat dan bentuk lekukan kayu mengandung filosofi dan nilai spiritual yang dalam.
“Proses membuat sarung keris itu tidak bisa tergesa-gesa. Harus tenang dan penuh rasa, karena setiap sarung memiliki karakter berbeda sesuai bilah kerisnya,” jelasnya.
Dalam prosesnya, Yutdiarta menggunakan berbagai jenis kayu pilihan seperti kayu areng, pelet timoho, majegau, cendana, hingga sonokeling. Kayu-kayu itu dipilih dengan cermat untuk menghasilkan warna dan tekstur yang harmonis dengan bilah keris.
Tahapan paling sulit menurutnya adalah penyetelan bagian dalam sarung.
“Prosesnya harus sangat teliti, terutama saat membuat sket dan mengolah bagian dalam sarung. Kita harus menyiasati agar tidak ada rongga saat keris dimasukkan. Tahapan paling sulit adalah penyetelan, karena di situ dibutuhkan ketenangan dan waktu ekstra supaya tidak longgar,” jelasnya.
Setiap wilayah memiliki gaya khas dalam pembuatan sarung keris. Bali, misalnya, dikenal dengan model baton poh, kekandikan, sesengratan, pepojongan, dan jejamprahan. Sementara di Jawa, dikenal gaya kayaman, ladrangan, dan senamolika.
Namun di balik bentuk fisiknya, Yutdiarta mengingatkan bahwa sarung keris mengandung makna filosofis yang mendalam.
“Keris melambangkan lingga, sedangkan sarungnya yoni. Itu simbol keseimbangan purusa dan pradana. Jadi keduanya tidak bisa dipisahkan,” ucapnya lirih.
Pembuatan satu sarung keris bisa memakan waktu antara satu hingga tiga hari, tergantung tingkat kerumitan dan detail ukirannya. Meski dikerjakan dengan cara tradisional, karya Yutdiarta tak kalah dengan hasil modern.
Kini, di tengah arus globalisasi, ia justru melihat secercah harapan. Banyak anak muda mulai tertarik mempelajari dan mengoleksi keris.
“Saya senang melihat generasi muda kembali mencintai tradisi ini. Harapan saya, mereka tidak hanya memiliki, tapi juga belajar membuat keris dan sarungnya sendiri,” ujarnya penuh harap.
Dengan tangan terampil dan hati yang setia pada warisan leluhur, I Nyoman Yutdiarta bukan sekadar perajin, melainkan penjaga napas budaya Bali, menyatu dalam setiap serat kayu yang ia bentuk menjadi keindahan bernama sarung keris.(dar,yan)








