
BADUNG – Sejumlah peristiwa mendapat sorotan khusus Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Republik Indonesia (RI), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, S.IP., M.M., CHRMP. Salah satunya yakni banjir yang terjadi di Pulau Dewata pada September lalu.
Karenanya, saat bertandang ke Kantor Basarnas Bali pada Kamis (16/10/2025), Kabasarnas RI menegaskan bahwa Basarnas membutuhkan personel yang terlatih dan profesional. Meski disadari, pada saat ini kondisi Sumber Daya Manusia (SDM), peralatan, dan juga teknologi masih belum mencukupi. “Keterbatasan-keterbatasan yang ada harus bisa diatasi dengan penyesuaian, agar hasilnya tidak mengecewakan ekspektasi publik,” tegasnya.
Menurut dia, idealnya standar layanan search and rescue adalah setaraf dengan standar International Maritime Organization (IMO), International Civil Aviation Organization (ICAO), dan International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG). Untuk itu, maka diperlukan adanya Balai Pelatihan Wilayah Timur, Tengah, dan Barat. Selain itu, juga pemenuhan sarana dan prasarana berstandar internasional, SDM yang profesional dan teruji, serta regulasi berlaku nasional, regional, dan internasional.
Berdasarkan catatan tahun 2024, sambung dia, total telah dilakukan sebanyak 2.562 operasi SAR. Dengan rincian yakni 7 kecelakaan pesawat udara, 869 kecelakaan kapal, 67 kecelakaan penanganan khusus, 146 bencana, dan 1.473 kondisi membahayaakan jiwa manusia. Sementara total korbannya adalah sebanyak 41.049, dengan rincian 38.871 selamat, 1.774 meninggal dan 458 hilang.
Dibandingkan dengan catatan tahun ini, angka tersebut dirasa mengalami penurunan. Karena sejauh ini, jumlah operasi SAR berada pada angka 1.865. Dengan rincian yakni 3 kecelakaan pesawat udara, 667 kecelakaan kapal, 58 kecelakaan penanganan khusus, 121 bencana, dan 1.213 kondisi membahayaakan jiwa manusia. Untuk korbannya, total sebanyak 8.430 orang, terdiri dari 6.720 selamat, 1.327 meninggal, dan 383 hilang.
Di samping bencana banjir di Bali, katanya ada sejumlah peristiwa lain yang menjadi perhatian khusus. Di antaranya yakni tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, WNA terjatuh di TNG Rinjani, dan runtuhnya bangunan Pondok Pesantren (Pospen) Al Khoziny.
Berbagai tantangan dihadapi, ditegaskan Kabasarnas RI, diyakini akan bisa terjawab dengan sejumlah upaya konkret. Di antaranya seperti kerja keras, sinergitas, dan totalitas. “Keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi diperlukan kejelian dalam merespon dan kepedulian dalam bertindak,” tegasnya.
Menyelamatkan satu nyawa, sambung dia, bukan hanya sekedar tugas. Melainkan bentuk investasi negara, terhadap masa depan bangsa. “Kita mungkin tidak bisa menyelamatkan semua, tapi setiap nyawa yang tertolong adalah kemenangan kemanusiaan,” tutupnya pada acara yang dihadiri pula oleh 3 Kepala Kantor wilayah tengah, yakni Mataram, Maumere dan Kupang. (adi)








