
JEMBRANA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana melakukan pengecekan kondisi Sungai Kaliakah dan Sungai Mati di Kelurahan Loloan Barat, pascabanjir, Minggu (21/9/2025).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jembrana, Putu Agus Artana Putra mengatakan, pengecekan dilakukan untuk mengidentifikasi kerusakan sekaligus memetakan penanganan lanjutan berupa normalisasi maupun pembersihan material sisa banjir.
Di Sungai Kaliakah, BPBD menemukan tujuh titik permasalahan, mulai dari tumpukan sampah, sedimentasi, hingga tanggul jebol.
Dari jumlah tersebut, dua titik bisa ditangani dengan alat berat. Estimasi pengerjaan normalisasi diperkirakan memakan waktu sekitar lima hari menggunakan eskavator.
Namun, akses menuju lokasi cukup sulit sehingga beberapa titik harus ditangani melalui gotong royong masyarakat.
BPBD juga menyiapkan dukungan berupa chainsaw dan pompa air untuk membantu penanganan material berupa bambu dan longsoran tanah.
“Sebagian bisa ditangani dengan alat berat, namun sebagian lain harus melalui gotong royong masyarakat karena aksesnya sulit,” jelas Artana Putra.
Sementara, di Sungai Mati, ditemukan aliran sungai sepanjang kurang lebih dua kilometer mengalami penumpukan sampah sehingga aliran tidak berfungsi normal.
BPBD merencanakan pengangkatan sampah dengan alat berat kecil sepanjang sekitar 400 meter dengan waktu pengerjaan diperkirakan dua hari melibatkan masyarakat.
Namun, pelaksanaan masih menunggu kepastian dari pihak rekanan penyedia alat berat.
“Aliran sungai sepanjang dua kilometer tertutup sampah sehingga tidak berfungsi normal. Untuk itu kami sudah siapkan rencana pengangkatan sampah dengan alat berat kecil dan melibatkan masyarakat. Harapan kami, penanganan bisa segera berjalan agar banjir dapat dicegah,” ujarnya. (ara)








