
GIANYAR – Gelaran Asia Pacific Convention Bonsai and Suiseki Exhibition (Aspac) ke-17 yang berlangsung di Alun-alun Gianyar, bukan hanya mencuri perhatian pecinta bonsai, tetapi juga menjadi ajang strategis promosi pariwisata dan penggerak ekonomi daerah.
Event internasional ini diikuti delegasi dari 16 negara, menegaskan posisi Gianyar sebagai pusat seni dan budaya bertaraf dunia. Ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Gianyar, Gusti Bagus Adi Widhya Utama, menegaskan Aspac membawa dampak multiplikatif yang luar biasa.
“Aspac bukan hanya pameran atau kontes bonsai. Dengan hadirnya delegasi mancanegara, kita bisa mengenalkan budaya, tradisi, serta destinasi wisata Gianyar. Promosi ini bahkan berlangsung secara organik lewat pengalaman langsung para tamu,” ujar Gusti Bagus Adi Widhya Utama yang juga Kepala Inspektorat Kabupaten Gianyar ini saat penutupan acara di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Senin (21/7/2025).
Menurut pria yang akrab disapa Gus Bem, dampak ekonomi dari Aspac juga tak kalah signifikan. Gelaran bursa bonsai mencatat transaksi mencapai miliaran rupiah, dengan beberapa pohon bonsai terjual hingga ratusan juta.
“Bahkan sebelum Aspac resmi dibuka, transaksi sudah berlangsung. Ini membuktikan bagaimana semangat komunitas bonsai hidup kembali, termasuk toko-toko perlengkapan bonsai yang ikut terdampak positif,” tambah Gus Bem.
Tak hanya para pecinta bonsai yang diuntungkan, sektor perhotelan, kerajinan tangan, dan UMKM lokal juga merasakan dampaknya. Delegasi asing diarahkan untuk menginap di seputaran Kota Gianyar, sekaligus berbelanja di sentra-sentra kerajinan lokal.
“Ini bentuk sinergi nyata antara seni, budaya, dan ekonomi,” ucapnya.
Meski acara resmi telah ditutup, keindahan bonsai-bonsai peserta masih bisa dinikmati publik hingga 27 Juli, saat pengambilan pohon dilakukan. Momentum ini membuat Alun-alun Gianyar tetap ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Ia menambahkan, Aspac ke-17 juga memperkuat citra Gianyar sebagai Kota Seni dan Budaya. Mulai dari penyambutan delegasi, penataan acara, hingga piala bagi pemenang dan juri internasional, semuanya menampilkan kearifan lokal.
Piala tersebut bahkan dibuat khusus oleh seniman Gianyar dengan desain artistik yang mencerminkan kehalusan budaya Bali.
“Aspac bukan sekadar tentang pohon kecil dalam pot. Ini adalah simbol keharmonisan antara manusia dan alam. Melalui perawatan bonsai, kita diajak untuk lebih peduli lingkungan. Kalau alam kita jaga, dia pun akan menjaga kita,” demikian Gus Bem. (yan)








