
GIANYAR – Neka Art Museum (NAM) kembali mengadakan event seni berupa pameran seni lukis bertajuk “Poetic Light : Art of Arie Smit-Maestro of Poetic Realism. Event kali ini merupakan bagian trilogi pameran tentang Arie Smit.
Pameran seni lukis bekerja sama dengan House of Arie Semit, bakal digelar selama sebulan penuh mulai 19 Juli-19 Agustus 2025. Arie Smit mungkin tidak asing lagi di kalangan seniman lukis. Arie Smit adalah seniman asal Belanda yang lahir tahun 1916. Ketika jaman kolonial, Arie Smit sempat tergabung dalam tentara Belanda (KNIL).
Ia menetap di Bali bahkan masuk menjadi warga Indonesia tahun 1951. Di Bali, ia sempat keliling ke sejumlah wilayah, hingga lama menetap di wilayah Ubud dan dekat dengan keluarga Pande Suteja Neka, pemilik NAM.
Arie Smit dikenal sebagai pelukis beraliran Poetic Realism yang menangkap keindaha alam,sawah,desa dan suasana Bali. Subjek lukisannya banyak mengangkat alam Bali dalam warna-warna cerah dan kontras, yang dibingkai dengan citra eksotik.
Karya-karya Arie Smit yang banyak mengidealkan lanskap Bali yang eksotik, dinilai sebagai cerminan bagaimana sang maestro sekaligus katalis perkembangan seni rupa Bali modern, bahkan disebut-sebut ikut mengukuhkan Ubud sebagai sentral Seni Rupa Modern di Bali ini begitu mencintai Bali dan memuliakan alam Bali.
Young Artist Style
Arie Smit dinilai banyak kalangan mempunyai andil besar dalam membina seniman lokal, terutama mendukung munculnya kelompok pelukis muda di Penestanan yang menjadi inspirasi lahirnya Young Artist Style hingga berkembang ke banyak desa.
Young Artist Style yang dipelopori oleh Arie Smit di Bali dianggap menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia, khususnya di Ubud. Gaya ini berkembang sejak awal 1960-an dan menjadi ciri khas seni rupa Bali kontemporer saat itu.
Bagi Dr Pande Made Kardi Suteja, inisiator pameran seni luki bertajuk “Poetic Light : Art of Arie Smit-Maestro of Poetic Realism, Arie Smit membuka jalan bagi seniman muda Bali untuk mengekspresikan diri dengan gaya yang lebih bebas. Membantu seniman lokal terhubung ke pasar seni internasional. Membantu anak-anak di pedesaan belajar melukis.
“Arie Smit sering diingat dengan penuh penghormatan oleh para seniman lokal karena kebaikannya. Waktu beliau mengurus admnistrasi kependudukan, namanya tercatat dalam daftar kartu keluarga Suteja Neka,” tandas Pande Made Kardi Suteja kepada wartawan, Rabu (16/7/2025).
NAM,sendiri mengkoleksi secara permanen sebanyak 50 karya Arie Smit. Namun yang dipamerkan kali ini adalah karya Arie Smit yang dikoleksi oleh sejumlah kolektor.
Sumber Cahaya
Kardi Suteja didampingi penanggung jawab House of Arie Smit, Putu Laksmi Kardi mengatakan, Arie Smit dalam perjalanan seninya tidak hanya dikenal sebagai pelukis tetapi sebagai sumber cahaya bagi kanvas para seniman muda terutama anak-anak Desa Penestanan serta bagi mereka yang percaya bahwa seni dapat mengubah hidupnya.
“Pameran ini mengangkat tema tersebut sebagai bentuk apresiasi dan penghormatan kepada Arie Smit atas dedikasinya serta warisan abadi yang ditinggalkannya,” imbuh Pande Made Kardi Suteja yang kini pemilik NAM.
Yang tidak kalah penting kata dia, semangat yang ditinggalkan Arie Smit terutama kepedulianya kepada kaum marginal (pemuda desa) kini diteruskan oleh pengelola House of Arie Smit. House of Arie Smit beberapa kali menggelar pelatihan dengan tema Sosio Prenuer sebagai bentuk kepedulian kepada anak-anak kaum marginal, membangkitkan keinginan mereka untuk belajar melukis.
Fisioterapi Saat Bencana
Pande Made Kardi Suteja juga menyinggung sosok Arie Smit bukan hanya seniman, pendidik juga penyembuh melalui seni. Ia menceritakan, saat letusan dahsyat Gunung Agung pada tahun 1963 adalah salah satu bencana alam paling besar dalam sejarah Bali.
Ribuan orang meninggal dan puluhan ribu mengungsi. Dalam situasi krisis ini, Arie Smit tetap mengajar anak-anak desa di Penestanan dan sekitarnya untuk melukis
“Saat itu, melukis dianggap sebagai bentuk terapi non-medis oleh Arie Smit, walaupun bukan secara formal seperti fisioterapi medis, tapi dalam konteks pemulihan trauma. Anak-anak yang kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman, diberikan medium untuk mengekspresikan ketakutan, kesedihan, dan harapan mereka melalui gambar,”katanya.
Gagasan ‘Poetic Light’ dinilai oleh Pande Made Kardi Suteja masih relevan ditengah isu kontemporer, dimana bentang alam Bali sudah banyak berubah akibat masifnya industri pariwisata, tidak ramah ekologi.
“Pameran karya Arie Smit ini tidak sekedar penghormatan, bisa menjadi refleksi untuk kembali merawat alam Bali bahkan bisa menyentil mereka yang tidak peduli dengan alam Bali,” demikian Pande Kardi Suteja. (yan)








