
BADUNG – Matahari baru saja terbit ketika ribuan langkah mulai berderap menyusuri Jalan Uluwatu, dari Jimbaran menuju Pecatu. Seolah menjadi gelombang tak putus, sekitar 25 ribu umat tumpah ruah di jalanan, mengikuti prosesi sakral Mepinton dan Ngiring Sesuhunan Ida Bhatara Dewa Ayu. Pagi itu, Uluwatu tak hanya jadi tujuan wisata, tapi juga ruang batin bagi perjalanan spiritual yang melibatkan ribuan jiwa.
Prosesi ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah warisan, napas budaya, dan wujud subakti yang mengakar kuat dalam sanubari masyarakat Desa Adat Jimbaran. Mereka berjalan kaki sejauh 15 kilometer dari Pura Ulun Swi hingga Pura Luhur Uluwatu—rangkaian yang tak hanya melelahkan tubuh, namun menyentuh kedalaman iman.
“Sampai iring-iringannya membentang tujuh kilometer. Itu luar biasa. Tahun ini jumlahnya jauh lebih banyak dibanding tahun lalu,” ungkap I Nyoman Sudana, Ketua Panitia Petangian Ida Bhatara Dewa Ayu, dengan mata berbinar, masih terkesima oleh ribuan warga yang mengalir tanpa putus, Minggu 11 Mei 2025.
Dalam sejarahnya, pernah dicoba untuk memudahkan perjalanan dengan kendaraan. Tapi, sebagaimana diceritakan I Ketut Sutarja dari Sekaa Barong Jimbaran, justru muncul kejadian-kejadian ganjil yang sulit dijelaskan akal. Sejak saat itu, para penglingsir sepakat: jalan kaki adalah satu-satunya cara. Bukan karena tak ada pilihan, tetapi karena keyakinan bahwa prosesi ini bukan tentang cepat atau praktis—melainkan tentang rasa hormat, laku bakti, dan kesinambungan dengan yang tak kasat mata.
“Esensinya bukan sekadar berjalan, tapi menyatukan harmoni antara alam besar dan alam kecil—makro dan mikrokosmos. Ini soal keseimbangan, soal rukun, agar semua—penduduk lokal maupun pendatang—merasakan dampak baiknya,” kata Sutarja, dengan nada penuh harap.
Prosesi ini akan berlanjut pada Senin (12/5) dengan iring-iringan kembali dari Pura Pererepan Pecatu menuju Pura Ulun Swi. Puncaknya akan berlangsung pada Jumat (16/5), melalui upacara Tegak Petirtaan yang disusul pementasan Calonarang di malam harinya—simbol pertarungan abadi antara dharma dan adharma.
Bagi masyarakat Jimbaran dan sekitarnya, ritual ini adalah napas. Sebuah komitmen kolektif untuk menjaga keharmonisan yang tak bisa digantikan dengan teknologi, apalagi kendaraan. Karena bagi mereka, perjalanan spiritual adalah perkara hati, bukan hanya langkah kaki.(*)








