
KLUNGKUNG – Desa Budaga, Kelurahan Semarapura Kauh, Kecamatan Klungkung, terkenal sebagai pusat pengrajin genta satu-satunya di Bali. Selain genta, juga memproduksi berbagai bentuk pengawin (peralatan dari logam untuk keperluan upacara adat) dan bola mimpi untuk meditasi.
I Wayan Budiarta, adalah salah seorang pengrajin genta yang sampai saat ini dengan setia melanjutkan warisan leluhurnya yang telah berusia puluhan tahun. Budiarta,pria bersahaja ini membuat genta di rumahnya di Jalan Kamboja Nomor 10, Lingkungan Budaga. Ia adalah generasi kedua dalam keluarganya yang melanjutkan kerajinan genta.
Bagi Budiarta menyalakan tungku, bukan hanya untuk melebur logam, tapi juga menjaga bara tradisi yang diwariskan ibunya sejak 1980. Ia memegang teguh prinsip, membuat genta bukan hanya soal ekonomi, tapi juga menjaga denyut tradisi yang mulai dilupakan.
Dimata Budiarta, genta memiliki makna yang sangat sakral dan mendalam dalam tradisi Bali. Karena genta bukan sekedar alat bunyi tapi simbol spiritual yang erat kaitannya dengan ritual keagamaan Hindu. Suara genta merupakan salah satu unsur Panca Gita, selain gong,kulkul, kidung serta mantra sebagai pelengkap ritual keagamaan.
“Saya hanya ingin kerajinan ini tetap hidup. Jangan sampai berhenti di saya,” kata Budiarta ditemui saat mengikuti pameran UMKM pada Festival Semarapura ke-7, Senin (28/4/2025).
Sejak 2005, Budiarta aktif memproduksi sekitar 50 genta setiap bulannya. Prosesnya tak mudah, dimulai dari pencetakan hingga pengecoran logam seperti perunggu, kuningan, perak, hingga emas.
Logam-logam itu dilebur menggunakan arang kayu dan batok kelapa selama sekitar satu jam. Setelah cair, baru dituangkan ke dalam cetakan. Menurutnya, semakin bagus bahan bakunya maka hasilnya juga bagus. Genta yang baik suaranya panjang.
Genta hasil olah tangan Budiarta tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 6 centimeter hingga 11 centimeter. Harganya bervariasi, dari Rp800 ribu hingga Rp3 juta, tergantung ukuran dan permintaan khusus dari pemesan. Ia menjual produknya langsung dari rumah atau melalui pesanan via telepon dan WhatsApp.
“Ini sudah bagian dari hidup saya,” katanya.
Dulu, genta karyanya sempat melanglang buana hingga ke Amerika Serikat, digunakan untuk keperluan meditasi. Namun, semenjak konflik Irak pecah, pasar internasional yang dulu menjadi andalannya perlahan menghilang.
Kini, tantangan terbesar baginya adalah harga bahan baku yang terus berfluktuasi karena pengaruh nilai tukar dolar. Bahan-bahan tersebut harus didatangkan dari Pulau Jawa. Meski demikian, ia tetap konsisten menjaga kualitas. Tak jarang, Budiarta memberi garansi dua hingga tiga bulan untuk setiap genta yang dijualnya.
“Kami belum pernah dapat komplain. Itu yang membuat saya tetap semangat,” katanya seraya mengatakan, dirinya hanya melanjutkan apa yang sudah dimulai orang tuanya.
Sebagai seorang pengrajin yang memegang teguh tradisi, Budiarta tak banyak menuntut. Namun, ia berharap pemerintah bisa lebih hadir memberikan dukungan dalam hal pemasaran dan ketersediaan bahan baku. (yan)








