
BULELENG – Pemkab Buleleng melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) mulai merangkul sekaligus memberdayakan kepala desa/perbekel dan lurah dalam upaya penyelamatan naskah kuno di Kabupaten Buleleng.
Selain penguatan kapasitas pemerintahan desa/kelurahan dalam penelusuran, pendataan dan identifikasi naskah kono warisan budaya yang ada di wilayahnya melalui sosialisasi melibatkan narasumber dari UPTD Gedong Kirtya dan Undiksha Singaraja juga ditekankan pentingnya penyelamatan dan pelestarian naskah kuno sebagai warisan budaya serta literasi dalam pengembangan pengetahuan.
“Penyelamatan naskah kuno merupakan bagian dari tugas DAPD sesuai kepmendagri dalam pelestarian warisan budaya non fisik yang ada di Nusantara,” ungkap Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (DAPD) Kabupaten Buleleng Made Era Oktarini usai membuka kegiatan sosialisasi di Ruang Rapat DAPD Buleleng, Kamis (20/3/2925).
Mantan Kabag Keuangan Sekretariat DPRD Kabupaten Buleleng ini menandaskan, pelibatan perbekel/lurah dalam penyelamatan dan pelestarian naskah kono ini sangat dibutuhkan, mengingat selama ini masih banyak ditemukan kendala berupa masih tertutupnya mindset masyarakat tentang pentingnya pelestarian naskah kuno.
“Selama ini, masih banyak naskah kuno milik pribadi, tersimpan di desa-desa, keluharan dan kecamatan yang sulit sekali untuk didata dan dipelihara, karena belum terbukanya minset masyarakat tentang pentingnya naskah kuno,” jelasnya.
Dengan pelibatan perbekel/lurah sebagai pemimpin dan pengayom masyarakat, mindset masyarakat tentang naskah kuno bisa terbuka, tidak hanya membuka wawasan, tapi juga bukan tidak mungkin bernilai ekonomis.
“Melalui sosialisasi ini, kita berharap perbekel dan lurah bisa berperan aktif, bersama-sama mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian naskah kuno,” tegasnya.
Dari sosialisasi dan diskusi yang dilaksanakan, Era mengaku optimis bersama perbekel yang antusias mengikuti sosialisasi, bahkan dengan lugas menyampaikan testimoni tentang naskah kuno yang setelah dibuka ternyata berisi catatan tentang pengobatan sederhana.
“Itu diungkapkan Perbekel Tukadmungga, naskah kuno yang sepakat dibuka bersama warga, ternyata berisi catatan tentang penyakit panas dalam yang dapat disembuhkan dengan tumbuhan yang ada disekitar kita,” terangnya.
Dengan pelibatan perbekel dan lurah, Era berharap penelusuran naskah kuno bisa segera terdata, dikoordinasikan dengan UPDT Gedong Kirtia dan Perpusnas untuk bisa dibaca, diduplikasi dan di digitalisasi sehingga bisa terjaga, lestari dan lebih bermanfaat.
“Penelusuran naskah kuno milik masyarakat ini dilakukan bukan untuk dikuasai, pemerintah hadir memfasilitasi penelusuran dan pendataan naskah kuno dalam rangka pelestarian warisan budaya sehingga bisa dibaca, terpelihara dan bermanfaat,” pungkasnya. (kar/jon)








