Buleleng

Launching TPAKD, Pj Bupati Buleleng Instruksikan Kerja Kolaboratif

Launching TPAKD dirangkaikan dengan penyerahan beasiswa di Rujab Bupati Buleleng.

BULELENG – Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana launching Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kabupaten Buleleng. Sesuai dengan namanya percepatan, tim yang melibatkan unsur organisasi perangkat daerah (OPD) terkait termasuk  4 Perumda milik Pemkab Buleleng yakni Perumda Tirta Hita Buleleng (THB), Perumda Swatantra, Perumda Pasar Arga Nayottama (PAN) Buleleng dan Perseroda BPR Bank Buleleng 45 ini diharapkan mampu mempercepat akses penyaluran keuangan daerah. 

“Tadi sudah launching, bahwa ini tidak bisa bekerja sendiri, perlu ada koordinasi perlu ada komunikasi, istilahnya kerja kolaboratif,” tandas Lihadnyana usai launching yang dirangkaikan dengan penyerahan bantuan beasiswa di Rujab Bupati Buleleng, Rabu (12/6/2024).

Kepala BKPSDM Provinsi Bali ini menegaskan kerja kolaboratif harus dilakukan oleh TPAKD yang dilaunching di hadapan pejabat dari Bank Indonesia Perwakilan Bali dan OJK Provinsi Bali dalam melakukan upaya percepatan akses keuangan sesuai dengan prioritas yakni pertanian dan UMKM. 

“Sehingga pertanian dan UMKM bisa lebih mudah mengakses keuangan. Pemerintah sudah memberikan semacam skema, melalui KUR yang memang lebih mudah, lebih cepat pelayanannya, dan itu bisa menggerakkan ekonomi Kabupaten Buleleng khususnya dari akses permodalan dan pengembangan usaha,” jelasnya. Terkait hilirisasi, Lihadnyana menyatakan menjadi tanggungjawab pemerintah sebagai ‘Murdaning Jagat’ untuk hadir dan memberikan solusi terbaik.

Ia berharap, TPAKD yang terbentuk bisa segera melakukan inovasi percepatan pembiayaan atau kredit bagi sektor prioritas yaitu sektor pertanian, UMKM dan sektor lainnya. “Dalam hal ini, sektor pertanian di Kabupaten Buleleng sudah mulai bertumbuh, bercermin dari data nilai tukar petani, NTP,” terangnya. 

Namun demikian, Lihadnyana mengaku sedih karena dibalik pertumbuhan NTP justru muncul kendala minimnya sumber daya manusia (SDM) pertanian seperti buruh petik cengkeh sehingga harus didatangkan dari luar daerah. “Tadi saya ke Desa Pedawa dan juga dapat laporan dari Dirut Perumda Swatantra tentang panen raya cengkeh. Ironisnya, untuk memetik cengkeh harus mendatangkan tenaga dari luar daerah, ini menjadi persoalan dan harus dicarikan solusi,” pungkasnya. (kar,dha)

Back to top button