
KUTA – Akun Instagram (IG) Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung (Perumdam Badung) yakni @humas_tirtamangutama, diserbu warganet.
Terutama pada pengumuman yang diposting tertanggal 1 Juni 2023 lalu. Postingan itu semacam pengumuman perpanjangan masa gangguan pelayanan menuju sejumlah wilayah di Kuta Selatan, kaitan penanganan kebocoran pipa 400 mm di Jembatan Panjang Jalan By Pass I Gusti Ngurah Rai, Jimbaran.
Banyak warganet yang mengeluhkan hal tersebut. Pasalnya, sebagaimana isi pengumuman yang diunggah tertanggal 28 Mei 2023 lalu, pelayanan diperkirakan normal kembali pada 1 Juni 2023 lalu.
Namun nyatanya, hingga Minggu (4/6/2023), kondisi masih juga belum normal. Tak ayal ada banyak warganet yang geram, dan mempertanyakan hal tersebut.
Bukan hanya secara online, hal tersebut juga menjadi keluhan masyarakat di wilayah-wilayah terdampak. Seperti disampaikan oleh seorang warga Cengiling Jimbaran, I Nyoman Sudiana. Dia yang juga Lurah Tanjung Benoa, mengaku mendapat banyak pertanyaan warga. Terutama kaitan dengan molornya perkiraan normal.
Keluhan, kata dia, dominan muncul dari warga yang memang tidak memiliki tempat penampungan air. Hingga mereka terpaksa membeli air galon isi ulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau saya ada 3 tempat penampungan yang berfungsi. Jadi gangguan ini masih bisa saya atasi. Tapi yang tidak punya ini yang memang cukup menyulitkan bagi mereka. Jadi semoga suplai air bisa segera kembali normal,” sebutnya.
Terpisah, kesulitan air juga dialami oleh seorang pemuda bernama Juni Eka Pratama. Sebagai alternatif, pemuda yang in the kos di wilayah Desa Pecatu itu terpaksa memenuhi kebutuhan dengan menumpang di pamannya yang berlokasi di wilayah Denpasar. Walau disadari, Pecatu dengan Denpasar jaraknya tidaklah dekat.
Direktur Teknik Perumdam Badung, Made Suarsa yang kemudian dikonfirmasi, menuturkan bahwa pihaknya sudah berupaya untuk melakukan penanganan secepatnya terhadap gangguan terjadi. Bahkan sejak kebocoran tersebut ditemukan, yakni pada 30 Mei 2023 lalu.
“Hari Selasa kemarin kita eksekusi. Itu kita ganti pipanya sepanjang 10 meter. Hari Rabu sebenarnya sudah selesai, tapi hari Kamis ternyata ada lagi yang bocor pada titik lainnya,” ungkapnya.
Menurut dia, itu terjadi lantaran usia pipa besi tersebut sudah terbilang berumur. Terlebih, lokasinya berada di area air payau, sehingga sangat mudah untuk korosi. Lokasi itu pula yang mengakibatkan penanganan kebocoran jadi terhambat, berkenaan dengan pasang surut air laut.
Yang mana penanganan rencana dilakukan pada hari Jumat lalu, namun lantaran air pasang, perbaikan baru bisa dilakukan kembali pada Minggu (4/6/2023).
“Rencana kita ke depan akan naikkan pipa itu. Kajian sudah kami lakukan sejak awal bulan lalu. Perkiraan itu membutuhkan dana di atas Rp 10 miliar,” sambungnya. (adi/jon)








