
GIANYAR – Di balik rambut yang memutih dan kulit wajah keriput, Ni Nyoman Tumbuh (70) meratapi kesedihan. Ia harus menjalani hidup tanpa sanak keluarga menemani kesehariannya.
Pahitnya kenyataan hidup dirasakan Ni Nyoman Tumbuh sejak berusia 10 tahun. Perempuan yang tinggal di Desa Adat Saraseda, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, itu harus merelakan kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya.
Bahkan, satu saudara laki-lakinya yang diharapkan menjadi tumpuan hidupnya juga meninggalkannya menghadap Sang Pencipta.
Hidup sebatang kara membuat Ni Nyoman Tumbuh tak bisa mengenyam pendidikan. Ia pun harus berjuang memeras peluh dengan bekerja serabutan seperti ngedig padi.
Seiring bertambahnya usia, tenaganya tidak lagi kuat untuk bekerja. Sedihnya lagi, Nyoman Tumbuh mengalami kecelakaan sekitar lima tahun lalu hingga mengharuskannya beristirahat total dari aktivitas.
Kondisi yang dialami Ni Nyoman Tumbuh mengetuk hati masyarakat di wilayah tempat tinggalnya. Warga silih berganti datang memberikan bantuan berupa beras maupun keperluan lain.
Tak Tanya bantuan sembako, beberapa warga juga kerap mebanten di rumah Ni Nyoman Tumbuh, termasuk saat hari raya Galungan dan Kuningan.
Bendesa Adat Saraseda, I Wayan Mudita (53) menuturkan, warga di wilayahnya merawat Nyoman Tumbuh sejak 12 tahun. Itu sesuai kesepakatan masyarakat setempat.
Bermula dari penyampaian secara lisan oleh kerabat yang masih ada hubungan keluarga dengan Nyoman Tumbuh kepada prajuru. “Jadi istilahnya sudah diserahkan ke banjar sehingga kami secara suka rela merawatnya ,” ujar Mudita.
“Kalau ada bantuan dari pihak luar, kami prioritaskan untuk beliau, termasuk BLT Rp 300.000,” jelas Wayan Mudita yang juga staf administrasi keuangan Kecamatan Tampaksiring ini.
Rumah Nyoman Tumbuh yang sebelumnya reyot juga sudah mendapatkan bantuan bedah rumah dari Polres Gianyar dan Polsek Tampaksiring.
“Baru rampung dua hari lalu. Awalnya, genteng rumahnya banyak bocor. Tidak punya dapur. Setelah dibedah, genteng diperbaiki. Sebelahnya ditambah satu kamar untuk dapur dan diperbaiki juga kamar mandinya,” ungkapnya.
Nyoman Tumbuh mengaku setiap harinya merasakan kesedihan karena tinggal sendirian. Apalagi, saat malam hari, suasana rumahnya sangat sunyi. Bahkan, penyengkernya masih berupa semak-semak dan jauh dari jalan raya.
“Dugas ada tukang rame, tyang demen. Suud to Malih sepi, sebet ngeling tiang sebilang wai. (Saat tukang kerja saya senang karena rumah ini ramai. Tapi setelah itu kembali sepi, saya menangis setiap hari),” tuturnya.
Sebagai pelipur lara, Nyoman Tumbuh memelihara beberapa ekor anjing. “Saya kasi makan, ajak tidur. Kadang saya ajak ngobrol,” ujarnya sambil menyeka air mata. (jay)








