
KUTSEL – Di tengah keluhan suplai air bersih di wilayah Pecatu, ternyata ada oknum yang malah melakukan kecurangan. Aksi pencurian dilakukan, untuk kemudian dijual kepada masyarakat dengan menggunakan mobil tangki.
Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung (akrab disapa PDAM Badung), Made Suarsa tidak memungkiri adanya temuan semacam itu. Kata dia, kecurigaan diawali adanya temuan Water Meter (WM) yang nol pemakaian sejak tahun 2021. “Dari dahulu kami selalu curiga adanya aksi pencurian semacam ini. Hingga akhirnya kami lakukan pengecekan terhadap WM yang menurut kami mencurigakan,” ungkapnya via ponsel.
Setibanya di lokasi, WM bersangkutan ditemukan dalam kondisi tersegel kawat berkarat. Sementara tidak jauh dari itu, ada semacam bak penampungan penuh air bersih yang tertutup seng.
Untuk mengisi bak penampungan, pelaku katanya melakukan penyambungan secara ilegal dari titik saluran sebelum memasuki WM. Kemudian dari pipa penyambung berukuran 1 1/4 inch itu, diteruskan dengan menggunakan selang menuju bak penampungan yang jaraknya sekitar 10-an meter dari WM.
“Di salah satu sudut bak penampungan itu, kami temukan ada outlet untuk mobil tangki. Itu menjadi bukti bahwa air curian tersebut secara berkala diambil dengan mobil tangki,” sebutnya.
Bahkan kuat dugaan, air curian tersebut dialirkan nonstop menuju bak penampungan. Karena para saluran, sama sekali tidak ditemukan palp terpasang. “Melihat semua itu, kami tak heran jika di daerah atas Pecatu itu sering kali terjadi permasalahan suplai air,” imbuhnya.
Soal kerugian, katanya pada saat ini sedang dilakukan penghitungan. Namun secara kalkulasi kasar diperkirakan ada 800-an ribu liter air yang dicuri dalam dua tahun terakhir. “Nah, kalikan saja selama 2 tahun terakhir, itulah kerugian kami,” sambungnya.
Suarsa mensinyalir bahwa itu bukanlah satu-satunya aksi pencurian air bersih di wilayah Kabupaten Badung. Karenanya untuk melakukan penelurusan lebih lanjut, pihaknya berencana segera melakukan pembentukan tim.
“Kami Perumda Air Minum Tirta Mangutama Kabupaten Badung sangat mengecam perilaku-perilaku semacam ini. Karena ini bukan saja merugikan kami. Melainkan juga masyarakat sekitar yang jadinya tidak mendapatkan suplai air secara optimal,” tegasnya. (adi/jon)








