
TABANAN – Cuaca buruk melanda wilayah Bali khususnya Tabanan beberapa hari kebelakang dan diperkirakan akan terjadi sampai awal Januari 2023 mendatang. Selain banyak kasus pohon tumbang, cuaca buruk ini membuat nelayan di Tabanan sama sekali tidak berani melaut.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tabanan I Ketut Arsana Yasa ketika dikonfirmasi mengatakan cuaca buruk melanda wilayah Bali sejak beberapa hari lalu termasuk puncaknya saat tilem. Angin kencang disertai hujan deras membuat para nelayan tidak berani melaut sama sekali.
“Cuaca sangat tidak bersahabat, nelayan tidak berani melaut dan saya minta seluruh nelayan mengamankan jukung ke tempat lebih tinggi,” ungkap Arsana Yasa, Minggu (25/12/2022).
Karena cuaca buruk ini, semua nelayan di Tabanan tidak berani melaut. Pasalnya kecepatan angin yang melebihi 30 kilometer per jam sangat berbahaya bagi jukung atau perahu kecil nelayan.
“Perahu bisa terbalik, itu sangat berbahaya, makanya nelayan tidak berani melaut,” tandas anggota komisi I DPRD Tabanan ini.
Berdasarkan ramalan cuaca, awalnya dia memperkirakan cuaca buruk akan terjadi sampai 27 Desember ini. Namun dari perkiraan dan foto satelit, cuaca buruk masih akan terjadi sampai 5 Januari 2023 mendatang. Adanya gelombang tinggi di Samudra Indonesia selatan Bali dan Jawa bisa mencapai lebih dari tiga meter.
“Padahal saat ini musim layur yang sangat bagus harganya di pasar ekspor. Namun nelayan harus realistis, karena cuaca sangat berbahaya,” tandasnya.
Karena tidak bisa melaut, sebagian nelayan di Tabanan memang juga sebagai petani. Sehingga mereka mengolah lahan sawah atau kebun yang dimiliki. Sementara yang tidak memiliki lahan banyak membuat alat tangkap baru seperti bubu untuk dijual ke sesama nelayan. Ada pula yang memakai kesempatan ini untuk memperbaiki jukung. Harapannya ketika cuaca membaik, jukung siap dipakai melaut.
“Sementara stop melaut dulu, tunggu cuaca membaik,” pungkasnya. (jon)








