
GIANYAR – Dalam tiga tahun terakhir ada puluhan orang bunuh diri di Kabupaten Gianyar. Terakhir yang menyita perhatian publik tewasnya pasangan suami istri berinisial NT (49) dan NAD (49) di sebuah perumahan di wilayah Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Minggu (20/11/2022).
Sosiolog Universitas Udayana, Wahyu Budi Nugroho menilai kasus bunuh diri karena faktor melemahnya support system di masyarakat.
“Bunuh diri merupakan fakta sosial yang dipengaruhi luar diri Individu, bukan semata-mata individu (psikologi),”ujarnya,
Semestinya, kata Wahyu Budi Nugroho, pada individu yang memiliki persoalan bisa dibantu oleh orang-orang terdekat. “Paling tidak, ada yang mau mendengar keluh kesah persoalan. Kalaupun kerabat dekat tidak bisa membantu, setidaknya ikut mencarikan jalan keluar,” ucapnya.
Ia menegaskan, lemahnya support system mengakibatkan individu menanggung sendiri persoalannya dan ketika menemui jalan buntu maka mereka pun nekat mengakhiri hidup.
Selain keluarga, lingkungan terdekat dari individu yang mempunyai persoalan adalah teman. “Sehingga fenomena bunuh diri ini bisa saya sebut sebagai bunuh diri ekoistik, dimana individu menyelesaikan persoalan dengan caranya sendiri,” jelasnya.
Jalan keluar yang bisa dilakukan adalah membangun kembali support system di lingkungan masing-masing. “Tentu hal ini dimulai dari keluarga masing-masing sehingga kalau ada persoalan, keluarga ikut mencari jalan keluar,” tandasnya. (jay)








