
GIANYAR – Tenaga penyuluh pertanian di Kabupaten Gianyar masih sangat minim. Padahal, keberadaan sekaligus keahlian mereka dinilai sebagai ujung tombak peningkatan produksi pangan.
Koordinator Penyuluh Pertanian Ni Made Sumpahyani menyebut ada 23 tenaga penyuluh dari Pemkab Gianyar dan 13 orang dari tenaga harian lepas tenaga bantu penyuluh pertanian (THL TBPP) Pemerintah Pusat. Mereka mengawasi 486 subak di Kabupaten Gianyar.
“Ya, kalau dirata-ratakan, setiap penyuluh mengawasi 17 subak,” kata Sumpahyani, Rabu (26/10/2022).
Keterbatasan itu mengharuskan tenaga penyuluh bekerja ekstra keras agar program-program pertanian sampai ke petani dengan cepat.
Hanya, ketika ada program baru dari pemerintah pusat, tenaga penyuluh kelabakan sampai kehabisan waktu untuk memberikan pendampingan.
Seperti saat adanya program padi organik menggunakan pupuk organik, tenaga penyuluh mesti kerja ekstra meyakinkan petani agar beralih ke organik.
“Meyakinkan petani butuh waktu dan harus ada hasil nyata, sehingga kami cari contoh pertanian organik yang sudah berhasil,” bebernya.
“Saat ini satu tenaga penyuluh membidangi empat desa di Gianyar. Tergantung luas desa dan jumlah subak di satu desa. Yang pasti semua subak ada tenaga penyuluh,” imbuh Ni Made Sumpahyani.
Dari jumlah petugas penyuluh, sebagian akan memasuki masa pensiun sehingga diharapkan ada penambahan tenaga muda.
“Kami terus bekerja dan selama ini semua berjalan dengan baik. Kami efektifkan kerja dengan membuat grup WhatsApp meskipun ada beberapa petani masih gaptek serta ada juga tidak memiliki smartphone,”ungkap Ni Made Sumpahyani.
Secara umum, keluhan petani seputar pemeliharaan padi karena adanya serangan wereng, kutu atau ulat.
“Bila ditemui masalah, kami koordinasi dengan Dinas Pertanian, sehingga persoalan teratasi,” tandasnya. (jay)








