
GIANYAR – Belasan orang tua yang anaknya menjadi peserta calon Taruna di Sekolah Kedinasan Kementerian Perhubungan, mendatangi Politeknik Transportasi Darat (Poltrada) Bali di Batuyang, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Kamis (4/8/2022).
Kedatangan para orang tua tersebut bermaksud untuk meminta hasil tes kesehatan lantaran anak-anak mereka dinyatakan tidak lolos.
“Kami ingin menanyakan di bagian mananya kesehatan anak-anak kami yang tidak lulus. Kami ingin tahu hasilnya karena kami membayar cukup mahal tes kesehatan yang dilakukan Poltrada,” ujar I Nyoman Suardika selaku pewakilan orang tua dihadapan Direktur Poltrada Bali, dr. Efendi Prih Raharjo.
Suardika bersama belasan orang tua tidak mempermasalahan anak-anaknya tidak lulus menjadi calon Taruna di Sekolah Kedinasan Kementerian Perhubungan tersebut. Namun, mereka hanya ingin Poltrada transparan memberikan hasil tes kesehatan.
Para orang tua beralasan sebelum mengikuti tes kesehatan di Poltradra, anak-anak mereka melakukan medical chek up seperti di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) maupun di rumah sakit lainnya dan hasilnya dinyatakan bagus.
“Kami ingin minta hasil tes kesehatannya karena anak-anak kami melakukan tes kesehatan tidak gratis, tapi membayar Rp 1,8 juta lebih. Jadi, wajib dong kami tahun gangguan kesehatan anak-anak kami sehingga tidak bisa diluluskan, sehingga bisa menjadi evaluasi,” tegas Suardika.
Menururnya, seharusnya tes kesehatan itu sudah keluar per 21 Juli 2022, tapi pihak Poltrada baru mengumumkan hasilnya pada Rabu (3/8/2022). Hal itu semakin mengundang kecurigaan Poltrada memainkan hasil kesehatan anak-anak mereka.
“Ini sangat aneh. Ada anak yang jelas kondisi fisiknya cacat (kaki bentuk O dan mata minus) serta tinggi badan di bawah dari yang dipersyaratkan malah lolos. Dari semua jenjang tes yang dilakukan, anak kami berada di atas rata-rata. SKD juga lolos dan dinytakan sangat memenuhi syarat,”bebernya.
Sementara, Direktur Poltrada Bali, dr Efendi Prih Raharjo mengatakan tidak bisa secara langsung memenuhi permintaan para orang tua tersebut.
“Ini sudah SOP. Kalau bapak-bapak mau hasil rekam medisnya, kami harus bersurat dulu ke Kementerian Perhubungan,” kata Efendi.
Penjelasan dr Efendi itu makin membuat para orang tua curiga adanya kongkalikong dalam tes kesehatan calon Taruna.
“Aneh, tes kesehatan kami membayar, tapi giliran mau minta hasil rekam medisnya malah tak dikasih. Ini benar-benar lucu. Sebagai orang tuanya wajib dong mengetahui kesehatan anak saya,”tandas Suardika.
Belasan orang tua berencana mengadukan hal itu ke pihak Ombudsman dan kepolisian. (jay)








