
JEMBRANA – Kelompok Penangkaran Penyu (KKP) Kurma Asih, di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, kini dijadikan salah satu pusat konservasi lingkungan laut dari masalah sampah plastik di perairan Indonesia.
Hal tersebut terungkap saat dilangsungkannya peresmian program Corporate Social Responsibility (CSR) Konservasi Laut KKP, bekerja sama dengan Indosat Ooredoo Hutchison Kamis (4/8) di penangkaran penyu tersebut.
Peresmian dilakukan langsung Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dihadiri pula Presiden Director & CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, CEO Huawei Indonesia Jacky Chen, CEO WWF Indonesia Dicky P. Simorangkir.
Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Bali, Bupati Jembrana I Nengah Tamba, menyaksikan peresmian bersama Forkopimda Kabupaten Jembrana, Kepala Dinas LH Dewa Gde Ari Candra, Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Ketut Wardana Naya, perbekel Perancak serta pengurus Kelompok Kurma Asih.
Kegiatan program Corporate Social Responsibility (CSR) Konservasi Laut KKP ini, juga diisi penyerahan bantuan peningkatan fasilitas penetasan dan rehabilitasi penyu, serta pelepasan tukik di Pantai Perancak.
Menteri Sakti Wahyu Trenggono mengatakan menarget konservasi laut bisa mencangkup 30% perairan Indonesia. Mengingat dengan laut yang dilindungi dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap kelestarian lingkungan global.

“Konservasi laut ini kita targetkan mencapai 30% di seluruh perairan Indonesia, yang akan menjadi tonggak sejarah yang akan kita sampaikan kepada dunia bahwa Indonesia punya kontribusi yang sangat besar terhadap perubahan iklim. Jadi kalau lautnya bersih dan biru kemudian ruang konservasi terjaga sangat baik, maka serapan karbonnya juga akan menjadi baik dan kemudian menjadi kontribusi yang sangat signifikan terhadap perubahan iklim dunia,” paparnya.
Lebih lanjut, Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan telah membuat gagasan yang disebut Bulan Cinta Laut. Dimana selama satu bulan dalam setahun para nelayan tidak diperkenankan menangkap ikan, melainkan mengumpulkan sampah plastik yang ada di laut.
“Salah satu yang kita gagas selain konservasi yang paling penting, yang akan kita jalankan di tahun ini dan nanti endingnya di bulan oktober yaitu Bulan Cinta Laut, dimana seluruh nelayan di Indonesia kita minta dalam satu bulan setiap tahun itu tidak menangkap ikan, tetapi dalam satu bulan untuk mengambil atau menangkap plastik di laut. Ketika nelayan mengambil plastik, pemerintah akan membayarnya dengan harga ikan yang terendah pada saat itu,” jelasnya.
Ia pun mengatakan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, perlu adanya kontribusi berbagai pihak dalam upaya melestarikan lingkungan laut.
“Perlu adanya kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, seluruh lapisan masyarakat termasuk generasi muda dan keterlibatan lembaga pendanaan dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir dan laut secara berkelanjutan,” paparnya.
Sementara Bupati I Nengah Tamba mengatakan, kegiatan konservasi laut ini sejalan dengan salah satu fokusnya dalam melestarikan lingkungan.
“Di sekitar sini sesuai konsep rencana tata ruang kami, memang direncanakan sebagai ruang konservasi laut dan mangrove yang luasnya hampir 76 hektar,” jelas Bupati Tamba.
Bupati Tamba dalam upaya pelestarian lingkungan pihaknya tengah berupaya mengatasi masalah sampah mulai dari tingkat desa dengan membuat aturan di tingkat desa terkait pengelolaan sampah.
“Kami juga melakukan kegiatan KEDAS (keren tidak ada sampah), jadi desa itu bersih, sehat dan cerdas. Itu juga kami siapkan dengan perarem (aturan) desa.
“Artinya ada satu aturan di desa yang membuat semacam reward dan punishment jadi kalau ada yang membuang sampah sembarangan akan ada punishment, tapi apabila memilah dan membuang sampah yang tepat ada reward yang didapat oleh masyarakat,” jelasnya. (ara,dha)








