
BULELENG – Sebelum mengakhiri pendidikan Program Study S3 Ilmu Pendidikan Paskasarjana Undiksha Singaraja, Jumat (15/7/2022) Ketut Putra Sedana mengikuti ujian akhir.
Sebagai mahasiswa, dokter spesialis kandungan yang akrab di sapa Dokter Caput menyampaikan desertasi bertajuk ‘Persalinan Bayi Memakai Metode Lotus Birds dan Praktek Pengasuhannya’.
“Desertasi ini terinspirasi dunia kedokteran khususnya pada bidang obsteri dan ginekologi (obgin) yang sangat serius memberikan perlakuan terhadap plasenta bayi yang baru lahir,” ungkap Dokter Caput, mengawali penyampaian tugas akhirnya kehadapan dosen penguji di Gedung Paska Sarjana Undiksha Singaraja.
Dokter yang memiliki motto ‘hanya dengan belajar bisa merubah nasib’ ini menegaskan, adanya kepercayaan yang didasari perkembangan nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia tentang pentingnya merawat plasenta sebagai saudara bayi saat lahir, diyakini bagian dari proses pembentukan karakter.
“Perlakuan khusus plasenta di berbagai daerah seperti Bali, Jawa dan NTT, menunjukkan keinginan orang tua agar bayi bisa tumbuh dan berkembang secara baik, sehat secara phisik (lahir) serta kejiwaan (pshykologis), memiliki sikap perilaku yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia,” terangnya.
Lotus Birth sebagai metode alternatif persalinan berawal dari praktek persalinan yang dilakukan oleh seorang bidan profesional asal Amerika Serikat di Bali.
Owner Klinik Bersalin Permata Bunda Singaraja ini mengungkapkan meski laporan WHO (1997) menjelaskan penundaan pengkleman adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih harus dibuktikan, namun dari uji coba secara acak yang dilakukan justru menunjukkan hasil positif.
“Bahwa, metode lotus birth dengan penjepitan tali pusat yang tertunda menghasilkan manfaat kesehatan yang signifikan untuk bayi cukup bulan dan premature. Mempertahankan sirkulasi plastenta ke bayi selama penjepitan tertunda dan pemotongan tali pusat setelah dimulainya ventilasi memberikan transisi fisiologis yang lebih baik dan mengurangi tingkat kematian, mortalitas pada bayi,” jelasnya.
Berkaitan dengan pencapaian sasaran,kata Caput, metode persalinan lotus birth diharapkan dapat mengantarkan kelahiran bayi yang sehat secara phisik dan psokologis serta mencegah terjadinya stunting.
“Memastikan bayi sehat secara psikofisik adalah domain kedokteran, sementara keluarga memiliki kewajiban membesarkan bayi agar menjadi anak yang sehat secara phisik dan psikologis serta cultural spiritual,” tandasnya.
Hal yang menarik sekaligus menjadi tantangan masyarakat Bali saat ini adalah menetapkan strategi pola asuh anak dalam 1000 hari pertama ditengah era digital tanpa mengganggu sosial kultur masyarakat Bali.
“Penelitian ini berupaya mengkombinasikan dua domain, lotus birth sebagai POS dalam persalinan yang dikaitkan dengan pola asuh anak pada usia emas, berdasarkan konsepsi yang dikemukakan oleh Goleman,” pungkasnya.(kar/jon)








