
JEMBRANA – Wisata Boon Pring yang dikelola BUMDes Kerto Raharjo di Desa Wisata Sanankerto, Kabupaten Malang, Kamis (19/5/2022) menjadi tujuan studi banding para kelian Banjar se-Jembrana.
Kunjungan studi banding dipimpin langsung Bupati Nengah Tamba beserta Kadis Pemberdayaan Pemerintah Desa Made Yasa.
Dengan melihat langsung Bumdes Kerto Raharjo dalam pengelolaan potensi wisata, Boon Priing, menyulap kawasan hutan bambu seluas 200 hektare di wilayah itu, bahkan mampu menyumbang Pendapat Asli Desa (PADes).
Bupati Tamba tertarik untuk mengadopsi kepiawaian BUMDes setempat dalam pengelolaan alam dan pelestarian lingkungan menjadi potensi wisata.
“Keberhasilan ini sangat patut kita adopsi. Kita langsung bawa hasil studi tiru ini ke Jembrana, cocok untuk diterapkan di daerah utara misalnya di kawasan Bendungan Benel. Paling tidak ada satu wawasan yang kita dapatkan di sini, bisa mengelola alam dengan baik, bagaimana alam itu dijaga, alam itu dilestarikan sehingga menjadi potensi kunjungan wisata atau masyarakat yang ada disini untuk rileks atau bersantai dan tentunya menambah wawasan tentang lingkungan,” papar Bupati Tamba.
Bupati Tamba menegaskan, pengelolaan potensi wisata di Desa Sanankerto ini sangat patut untuk dicontoh dan diterapkan di Jembrana.
“Ini pentingnya kita studi tiru, untuk melihat bagaimana manajemennya, tata kelolanya, pelestariannya, dan tentunya membuat desa menjadi makmur,” tandasnya.
Direktur BUMDes Kerto Raharjo Samsul Arifin menyampai terkait sejarah dibentuknya objek wisata Boon Pring.
“Ini kita beri nama Boon Pring yang berarti anugerah dari bambu, ini dikelola BUMDes mulai tahun 2017. Yang terlibat di pengelolaan objek wisata ini melibatkan kelompok tani hutan, kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan karang taruna. Semua pengelola disini adalah warga setempat. Di tahun 2017 sebelumnya pihaknya hanya punya 7 jenis bambu, dan sekarang kita sudah punya 114 jenis bambu,” jelasnya.
Dijelaskan Samsul bahwa objek wisata dikelola telah menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Di awal 2017 sudah mampu menyumbang PADes sebesar 82 juta, dan di tahun 2019 kita sudah mampu menyumbang PADes sebesar 615 juta dari omset Rp2,8 miliar. Dimasa pandemi, kita masih mampu bertahan tidak sampai gulung tikar dan sekarang pengunjung sudah kembali meningkat. Sebelum pandemi di hari Sabtu dan Minggu kunjungan wisata 4.000 – 5.000 pengunjung per hari. Pernah membanggakan, pada tahun baru 2019 pengunjung mencapai 14.000 orang,” imbuh Samsul.
Terkait pengelolaan sampah yang ditimbulkan dari Boon Pring, Samsul menjelaskan bahwa untuk sampah anorganik dikelola oleh TPST dan sampah organik jadikan pakan untuk ternak maggot. (ara,dha)








