
DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 tidak hanya menjadi panggung pelestarian seni dan budaya Bali, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Dalam 10 hari pelaksanaan, omzet pelaku UMKM kuliner yang berpartisipasi di PKB telah mencapai Rp1,88 miliar.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Provinsi Bali, Tri Arya Dhyana Kubontubuh, mengatakan capaian tersebut menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan dari festival budaya tahunan terbesar di Bali itu.
“PKB mendatangkan efek ganda, tidak hanya seni budaya yang berkembang, tetapi perputaran ekonomi juga berjalan bersama,” ujarnya di Denpasar, Rabu (24/6/2026).
Data Diskop UKM Bali mencatat transaksi UMKM kuliner sejak pembukaan PKB pada 13 Juni hingga 23 Juni 2026 mencapai Rp1,88 miliar. Angka tersebut baru berasal dari sektor kuliner dan belum termasuk transaksi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) bidang kerajinan yang juga turut meramaikan ajang tersebut.
Menurut Tri Arya, nilai transaksi keseluruhan diperkirakan jauh lebih besar jika digabungkan dengan sektor kerajinan yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama PKB.
Pada PKB tahun ini, Diskop UKM Bali memfasilitasi 72 UMKM kuliner untuk berjualan secara gratis di kawasan Taman Budaya Art Center Denpasar. Para pelaku usaha tersebut dibagi dalam dua kloter agar lebih banyak UMKM memperoleh kesempatan memasarkan produknya.
Sebelum mengikuti PKB, seluruh peserta telah melalui proses kurasi sehingga produk yang ditawarkan beragam, mulai dari makanan tradisional khas kabupaten/kota se-Bali, minuman, jajanan tradisional, hingga produk berbahan baku lokal Bali.
“Kami mengutamakan makanan tradisional khas Bali agar selain memperoleh keuntungan ekonomi, para pelaku UMKM juga dapat memperkenalkan kekayaan kuliner daerah kepada masyarakat dan wisatawan,” katanya.
Pemprov Bali juga memastikan seluruh stan kuliner yang difasilitasi menerapkan standar kebersihan, kualitas produk, dan transparansi harga. Diskop UKM menegaskan area kuliner PKB berbeda dengan pasar malam karena dikelola secara tertib, bersih, serta bebas dari pungutan liar.
“Pelaksanaan kuliner kami bersih total, baik dari sisi penyajian, pengelolaan sampah, maupun bebas pungli. Harga juga sudah sesuai dengan daftar menu yang tersedia,” tegas Tri Arya.
Keberadaan area kuliner di PKB dinilai menjadi pelengkap kebutuhan ribuan pengunjung yang setiap hari memadati Art Center untuk menyaksikan berbagai pertunjukan seni dan budaya. Tingginya kunjungan tersebut secara langsung memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku usaha kecil.
Pemprov Bali menargetkan perputaran ekonomi UMKM kuliner selama PKB 2026 mencapai Rp5 miliar hingga penutupan acara pada 11 Juli mendatang. Target tersebut berkaca pada capaian tahun lalu yang juga menembus angka sekitar Rp5 miliar.
“Tentu kami berharap omzet tahun ini bisa melampaui tahun lalu. Namun yang terpenting, para UMKM tetap memperoleh manfaat karena seluruh fasilitas diberikan pemerintah tanpa dikenai biaya apapun,” ujar Tri Arya. (*)








