
GIANYAR – Pembuatan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reuse Reduce, dan Recycle) khususnya di Kabupaten Gianyar tidak semulus yang dibayangkan. Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan anggaran.
Seperti di Kecamatan Blahbatuh, baru tiga dari sembilan desa yang memiliki TPS3R yaitu Bedulu, Bona, dan Medahan. “Desa Bedulu sudah setahun lalu dan dua desa lainnya baru sebulan lalu selesai,” ujar Camat Blahbatuh, I Wayan Gede Eka Putra, Rabu (18/4/2022)
Menurutnya, kendala paling mendasar pembuatan TSP3R adalah anggaran. Sedangkan untuk lahan hampir semua desa tersedia tanah adat dan dinas.
“Kendalanya itu anggaran. Kami hanya bisa berkordinasi dan mohon bantuan kepada Bappeda dan BPKAD,” ungkap I Wayan Gede Eka Putra.
Dari pengamatan Eka Putra, sejak adanya TPS3R di Bedulu, volume sampah yang dibawa ke Temesi menurun.
“Dampaknya jelas sekali. Di Bedulu volume sampah yang dikirim ke Temesi menurun. Kalau di Bona dan Medahan belum bisa kita lihat karena baru selesai upacara melaspas kemarin,” sebutnya.
Sementara, Perbekel Desa Saba, Ketut Redhana mengatakan pendirian TPS3R di wilayahnya tidak hanya terkendala anggaran, tapi juga lahan yang dimiliki oleh lima desa adat minim.
“Ada lahan milik desa adat kami rencana bersinergi, tapi terkendala lahan jalan, jalan hanya setapak, tidak mungkin bisa dilalui kendaraan,” ujarnya.
Perlu diketahui, Pembangunan TPS3R wajib dilakukan oleh Desa Adat dan Desa Dinas Di Bali. Hal ini menyusul akan ditutupnya TPA Suwung karena overload dan berada di tengah perkotaan.
Sebelumnya, Kepala Bapeda Gede Widarma Suharta menyebutkan di Kabupaten Gianyar minimal harus ada 40 TPS3R. (jay)








