
Gubenur Bali Wayan Koster saat hadiri peringatan HPN tahun 2022 dan pengukuhan pengurus PWI Buleleng masa bakti 2021-2024
BULELENG – Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Kepala Dinas Komunikasi dan Statistik (Kominfos) Provoinsi Bali, Gede Pramana menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2022 tingkat provinsi Bali dan pengukuhan pengurus persatuan wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Buleleng masa bakti 2021-2024, Sabtu (12/3/2022).
Selain wujud kemerdekaan pers, HPN bertajuk ‘Bali Bangkit Indonesia Jaya’ yang dipusatkan di Buleleng juga diapresiasi sebagai wahana penguatan sinergitas pers dengan pemerintah dalam membangun Bali secara fundamental dan komperhensif.
“Hal ini membutuhkan mediasi, media meanstream dan media sosial untuk menyampaikan segala sesuatu informasi tentang kebijakan pemerintah ditengah perkembangan teknologi informasi saat ini,” tandas Gubernur Bali Wayan Koster pada acara yang juga dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, Ketua DPRD serta Sekda Buleleng di Gedung Laksmi Graha Singaraja.
Sesuai dengan tema kegiatan, Gubernur Koster mengajak media khususnya yang tergabung dalam organisasi PWI Provinsi Bali yang dipimpin IGMD Dwikora Putra dan PWI Kabupaten Buleleng pimpinan Made Winingsih, bangkit bersama pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten/kota untuk membangun Bali sesuai visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Bali era baru, melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Dengan teknologi digital yang sangat masive sekarang ini, harus diberdayakan lebih optimal untuk mendorong demokratisasi dan peningkatan komunikasi dengan masyarakat terkait agenda pemerintah termasuk keluh kesah warga yang harus mendapat reaksi cepat, oleh pemerintah provinsi serta kabupaten/kota, karena masyarakat butuh layanan cepat, informasi cepat, tidak bisa kerja biasa, harus kerja cepat dengan ekstra keras,” tegasnya.
Sebagai Gubernur sejak 5 September 2018 lalu bersama Wagub, Koster mengaku berkonsentrasi menata pembangunan secara fundamental dan komperhensif dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Pembangunan semesta berencana menuju Bali era baru, yang bermakna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya guna mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera bahagia skala niskala, sesuai prinsip Tri Sakti Bung Karno, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Dua kata yakni, fundamental dan komperhensif, membangun Bali betul-betul dari hal-hal yang sangat esensial, yang jadi akar kehidupan masyarakat Bali, memperkuat fundamental alam Bali dan kebudayaan Bali,” tandasnya.
“Sehingga saya prioritaskan penyelesaian regulasi berupa peraturan daerah mencapai 18 buah dan 26 peraturan gubernur, jadi 44 regulasi yang sudah tersusun dalam 2,5 tahun,” terangnya.
Koster menegaskan, dengan mengacu regulasi yang menjadi dasar hukum menata pelaksanaan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Jadi saya memimpin pembangunan Bali tidak sekedar membangun tapi membangun Bali pada hal-hal yang esensial, yang penting untuk menjaga alam Bali,manusia Bali dan kebudayaan Bali. Bukan sesuatu yang sporadis, bukan sesuatu yang parsial, tapi fundamental dan komperhensif, terintegrasi antara satu dengan yang lain,” tegasnya.
Pembangunan Bali harus sesuai regulasi yang ada, harus diharmonisasi, disinkronisasi dan tidak bisa semena-mena baik oleh pemerintah pusat maupun BUMN.
“Kenapa demikian, karena saya tidak ingin Bali dibuat compang camping, jalan dengan gayanya sendiri-sendiri. Saya jalankan di Bali dengan visi Sat Kerthi Loka Bali adalah membangun Bali, bukan membangun di Bali,” tandas Koster.
Koster menegaskan, tahap pembangunan Bali dimulai dari regulasi penguatan dan pemajuan adat istiadat, tradisi, seni budaya dan kearifan lokal sebagai modal dasar pembangunan Bali. (kar)








