
GIANYAR – Prodi S3 Doktor Kajian Budaya Universitas Udayana (Unud) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) di Museum Pendet, Nyuh Kuning, Kecamatan Ubud, Gianyar, Sabtu (26/2/2022).
Kegiatan pengabdian mengangkat tema “Industri Budaya: Pemertahanan Kesenian di Masa Pandemi di Ubud” itu diikuti mahasiswa S2 dan S3 angkatan 2021/2022, dosen, dan sejumlah seniman dari pelukis dan kurator. Kegiatan PkM dilaksanakan dengan prokes yang ketat.
Program PkM ini merupakan kerja sama antara Prodi S3 Kajian Budaya dengan Museum Pendet.
Koprodi S3 Kajian Budaya, Prof. I Nyoman Darma Putra dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan dilaksanakan di Museum Pendet karena unik dalam sejarah perkembangan museum di Bali.
Keunikannya adalah museum ini khusus museum patung karya seniman Wayan Pendet, berbeda dengan umumnya museum yang mengoleksi dan memajang karya banyak seniman.
“Selain itu, museum yang biasanya dikenal besar, museum ini relatif kecil. Meski kecil ukuran bangunan dan lokasinya, nilai karya yang terpajang sangat besar,” ujar Prof. Darma Putra.
Museum Muka Pendet ide awalnya muncul tahun 1930-an ketika Wayan Pendet aktif menjadi anggota yayasan Pita Maha yang didirikan tahun 1930-an oleh pelukis Belanda Rudolf Bonnet dan Tjokorda Gde Agung Sukawati dari Puri Ubud.
Sementara, Wakil dari Museum Pendet, Dr. Ketut Muka menyampaikan terima kasih atas perhatian Prodi S3 Kajian budaya untuk kehadirannya di museum untuk berbagi dengan seniman mengenai kehidupan seni budaya dalam situasi disrupsi akibat pandemi.
Ia menceritakan, Wayan Pendet adalah seniman patung Bali yang merupakan anggota Pitamaha termuda pada zaman itu.
Sambutan juga disampaikan oleh Koprodi S2 Kajian Budaya, Dr. I Wayan Tagel Eddy yang mengatakan kebudayaan sangat terkait erat dengan kehidupan masyarakat. Kebudayaan, kata Tagel Eddy, bukan semata kesenian dan keindahan tetapi juga merupakan ruang negosiasi kekuasaan.
Sementara, Ketua panitia PkM, Wayan Nuriarta megungkapkan, tujuan pengabdian ini untuk memberikan solusi berdasarkan kajian akademik di bidang kajian budaya atas kebutuhan, tantangan, dan persoalan yang dihadapi kelompok seniman di Ubud.
Selain itu, PkM juga diharapkan untuk memberikan informasi mengenai peningkatan kinerja (capacity building) bagi kelompok seniman di Ubud dalam rangka mendukung pembangunan seni budaya dan kesejahteraan masyarakat serta memperoleh umpan balik dan masukan bagi program studi Doktor Kajian Budaya dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan, dari para praktisi dan pakar.
Diskusi Industri Budaya
Kegiatan PkM diisi dengan penijauan koleksi Museum, diskusi koleksi saat peninjauan, dan diskusi khusus mengenai “Industri Budaya” dengan tiga narasumber, yaitu Dr. Ketut Muka Pendek (pengelola museum/ Dosen ISI Denpasar), dan dua mahasiswa Kajian Budaya yaitu Richard Togaranta Ginting dan I Kadek Puriartha. Diskusi dipandu oleh AA Gde Agung Dalem.
Dalam presentasinya berjudul “Konsep Berkesenian Dulu dan Kini”, Dr. Muka Pendet menyampaikan sejarah kaitan kesenian dengan kehidupan sosial dan keagamaan serta komersial masyarakat.
“Meski terjadi perubahan konteks mencipta dalam sejarah kesenian Bali, peran seni sebagai pendukung kegiatan spiritual dan keagamaan di Bali ikut membuat kesenian itu menjadi berkembang ajeg dan dinamis,” ujar alumnus Prodi S-3 Kajian Budaya Unud ini.
Richard dalam presentasinya “Digital Culture: Mengenalkan Kesenian dan Budaya Indonesia melalui Literasi Digital” mendorong seniman, mahasiswa, dan warga pada umumnya untuk rajin memperkenalkan seni budaya Nusantara lewat media digital. Nilai promosinya itu tinggi sekali, karena penonton bisa tertarik dan sungguh akan berkunjung.
Kadek Puriartha dalam presentasi “Seni Virtual Bali di Masa Pandemi” menyampaikan bahwa pandemi menghambat berbagai kegiatan seni. Sebagai contoh, kelompok seni yang dimiliki di Singapadu sudah harus pentas memenuhi undangan ke Paris tetapi batal karena pandemi.
Kadek juga menunjukkan peluang kreatif yang diberikan pandemi lewat seni digital seperti syuting pentas dengan latar belakang (setting) dinamik, inovatif, dan menarik.
“Adegan-adegan magis yaitu muncul dan menghilang dalam drama tari calon arang bisa dibuat dengan teknik digital dengan menarik,” katanya.
Dalam komentarnya, dosen S-3 Kajian Budaya Unud Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S., memuji kreativitas seniman Bali dalam tetap berkreasi dalam situasi pandemi lewat penciptaan seni virtual.
Dosen lain, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., menyampaikan pemertahanan kesenian Bali terjadi karena kemampuan seniman dan budayawan yang melakukan transformasi. “Kata kuncinya ada dua yaitu transformasi dan kemitraan,” ujar Prof. Suarka.
Diskusi berlangsung hangat selama dua jam. Dalam kesempatan itu dibahas mengenai sejarah seni rupa Bali, kehidupan seniman, manfaat seni bagi kehidupan sosial masyarakat, literasi budaya, literasi digital, dan seni virtual Bali di masa pandemi. (jay)








