
KUTSEL – Seiring perkembangan teknologi, sebuah karya seni bukan hanya bisa dinikmati atau diperjualbelikan dalam format analog. Kini, karya seni juga dapat berupa aset digital yang disebut dengan istilah Non-fungible Token (NFT).
Melihat peluang pada perkembangan tersebut, dengan tanpa meninggalkan format analog, sebuah platform bernama WHOA!FRANK hadir menggabungkan keduanya. Karya seni analog dan digital dikombinasikan, turut membantu para seniman Bali mendapat benefit yang lebih.
“Kami di sini mempertemukan seni digital dan analog. Dengan ini, kami ingin turut membantu para seniman untuk memperkenalkan atau menawarkan hasil karya mereka kepada jaringan yang lebih luas, termasuk ke the next level,” beber Franklin Firdaus, dalam acara peluncuran WHOA!FRANK, di The Apurva Kempinski Bali, Selasa (21/12/2021).
WHOA!FRANK, sambung dia, bukan hanya mengangkat karya seni lukis saja. Melainkan juga mahakarya lain yang tercipta atas dasar jiwa seni, termasuk pula karya fotografi. Hadirnya platform tersebut, dipastikan juga memberikan dampak positif bagi Bali. Khususnya para seniman Bali, yang turut merasakan dampak akibat pandemi Covid-19.
“Penjualan dari karya-karya ini, juga akan kami sumbangkan kembali ke Bali melalui badan amal lokal Bali,” sebutnya.
Tidak dipungkirinya, saat ini jumlah seniman yang tergabung dalam WHOA!FRANK memang belum banyak, yakni sekitar 10 hingga 20 orang saja. Namun demikian, dia memastikan pihaknya masih terbuka untuk seniman-seniman Bali lainnya.
“Semuanya mempunyai kesempatan yang sama. Dan kami harap mereka dapat menunjukkan keunikan karya masing-masing,” ucapnya.
Sementara Locca Chandra yang juga dari WHOA!FRANK, menyebut, NFT merupakan fenomena yang sedang berkembang seiring makin populernya mata uang kripto. Benefit dari NFT, kata dia, ketika sebuah karya dijual dari tangan satu ke tangan lainnya.
“Kalau karya seni dijual dengan cara biasa, biasanya seniman hanya mendapat benefit di awal saja, meski nantinya karya tersebut dijual kembali dengan harga lebih tinggi. Sementara kalau melalui NFT, berapa kalipun karya dijual, maka royalti akan tetap jalan dan diterima oleh seniman bersangkutan. Itu makanya kami mengkolaborasikan analog dan digital,” jelasnya.
Ke depan, sambung dia, pihaknya juga akan menjalankan fashion art secara analog dan NFT. Rencananya, itu akan dikerjakan pada bulan Februari 2022 nanti.
“Kami bisa mengklaim sebagai yang pertama me-manage artist dengan sekian banyak marketplace. Kalau yang lain, itu ada namanya sistem setor karya. Sementara ini tidak. Para seniman kami buatkan page untuk meluncurkan karya mereka masing-masing. Sedangkan peranan kami adalah promosi dan menjual, sehingga para seniman bisa fokus berkarya dan menerima benefit,” tandasnya.
Dia mengatakan, ke depan pihaknya berrencana membangun sebuah sekolah desain grafis dengan fasilitas dan alat yang sesuai. (adi/jon)








