
DENPASAR – Angka kasus positif Covid-19 di Bali sampai saat ini masih naik turun. Meski ada Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan penyekatan di sejumlah wilayah, mobilitas masyarakat Bali masih cukup tinggi. Ada kesan dan disinyalir masyarakat Bali masih ‘memengkung’ sehingga target dari Kementrian Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk menurunkan mobilitas masyarakat dan taat pada protokol kesehatan di tengah pandemi belum bisa tercapai sesuai harapan.
Hal itu disampaikan Sekretaris Satgas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali Made Rentin, saat dikonfirmasi, Senin 12 JUli 2021. Made Rentin menjelaskan, sejak penerapan PPKM Darurat 3 kasus positif Covid-19 di Bali masuh naik turun. Namun dua hari terakhir pada 10 Juli angka positif mencapai 678 kasus positif yang penyebarannya 556 orang melalui transmisi lokal, 121 melalui pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN), tingkat kesembuhan mencapai 297 orang dan meninghal dunia 7 orang. Sementara pada 11 Juli kasus positif Covid-19 menurun dari har sebelumnya. Tercatat kasus positif 561 orang yang berasal dari transmisi lokal 499 orang 58 orang dari PPDN dan 4 prang melalui PPLN. Tingkat kesembuhan 297 orang dan meninggal 7 orang.
“Melihat data tersebut dan hasil rapat koordinasi dan evaluasi yang dilakukan Tim Satgas Covid-19 bersama Kadishub yang menjadi titik pokos perhatian sesuai arahan Ketua Tim Pusat Luhut Binsar Pandjaitan, yang menjadi titik krusial di Bali adalah menurunkan tingkat mobilitas masyarakat Bali. Sehingga ada kebijakan pemerintah untuk terus melakukan penyekatan dan melakukan revisi terhadap Surat Edaran Gubernur tentang PPKM Darurat,” katanya.
Menurutnya, sampai saat ini dari hasil evaluasi di lapangan di sejumlah pos-pos penyekatan yang utama diperhatikan masalah kedisiplinan masyarakat menerapkan prokes salah satunya penggunaan masker. Kedua dalam SE Gubernur 10 tahun 2021 tentang penegasan jam operasional dan Instruksi Mendagri yang telah berkali-kali mengalami perubahan. Hal yang perlu dipahami masyarakat yang berhubungan dengan sektor non esensial seperti toko pakaian, toko sepatu, toko seluler, peralatan rumah tangga dan sejenisnya termasuk kantor-kantor swasta yang tidak termasuk esensial agar ditutup dan menjalankan aktifitas sepenuhnya work from home.
“Ternyata, disinyalir masih banyak masyarakat kita memengkung. Terbukti mobilitas masih tinggi sehingga target dari Ketua Tim Luhut Binsar Pendjaitan, mobilitas masyarakat kita ditargetkan minggu ini supaya bisa minus 20 sampai 30 persen,” bebernya.
Rentin mengakui, petugas di lapangan terus bergerak melakukan pengawasan dan pemantauan, ternyata masih banyak toko-toko dan perkantoran swasta yang non esensial masih ada yang ditemukan tetap buka.
“Sekarang yang kami evaluasi mobilitas penduduk, perkembangan kasus positif dan tingkat kesembuhan.Sampai saat ini, perkembangan cukup menggembirakan bahwa tingkat kesembuhan dari angka positif semakin tinggi. Diharapkannya dengan kedisiplinan masyarakat laku perkembangan kasus positif terus disa ditekan dan sebaliknya tingkat kesembuhan bisa terus meningkat, jelas Kalaksa BPBD Bali ini.
Sementara ditempat terpisah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya menyampaikan, kasus positif dua hari belakangan ini masih fluktuaktif.
“Kasusnya masih naik turun, meski ada penurunan dari sehari sebelumnya tetapi belum signifikan,” katanya.
Sementara melihat perkembangan kasus positif sejak PPKM Darurat di Bali, diharapkan tingkat hunian rumah sakit di Bali bisa dikendalikan. Tidak sampai seperti rumah sakit – rumah sakit di luar Bali ketersediaan bed occuvancy rate (BOR) sampai habis.
“Kita di Bali masih pada posisi aman, ketersediaan bed di rumah sakit masih cukup aman, tidak ada pasien yang dirawat dilorong. Masih cukup aman dan kami berharap kasus positif terus menurun,” pungkasnya. (arn)








