
DENPASAR – Ketua Tim Penggerak PKK dan Dekranasda Provinsi Bali Ni Putu Putri Suastini Koster, menilai PDIP Provinsi Bali benar-benar miliki keseriusan dalam menjalankan ajaran Tri Sakti Bung Karno. Salah satunya dibuktikan dengan berbagai kebijakan kader partai yang duduk di eksekutif telah disosialisasikan kemasyarakat. Seperti Peraturan Gubernur (Pergub) dan Peraturan Daerah (Perda). Produk hukum tersebut telah memberikan manfaat besar kepada masyarakat Bali dalam meningkatkan ekonominya.
“Terbukti, Sebelum diterbitkan Perda dan Pergub tersebut, pengerajin Tenun di Bali sudah menangis dan nyaris berhenti berkarya. Hal itu dikarenakan, hampir semua pengerajin endek tradisional sedang menangis dan mau tidur panjang. Produk yang beredar hampir 60 persen berasal dari luar Bali dan membuat pengerajin tenun di Bali mati suri,” ungkap Nyonya Putri Suastini Koster saat menjadi Keynote Sepeaker pada Dialog Interaktif Desain Kreatif Busana Adat ke Kantor Pakem Bali di Sekretariat DPD PDIP Bali, Renon Denpasar, Minggu 9 Mei 2021.
Putri Koster menjelaskan, ketika kain endek di produksi dibuat besar-besaran di luar Bali, tenaga Bali tidak kepakai dan pekerja yang sebelumnya dipekerjakan oleh pengerajin tenun di Bali menjadi menganggur. Kemudian hasil produksi besar-besaran tersebut akan dipasarkan ke Bali dan masyarakat Bali akan membelinya dengan harga yang lebih murah. Hal inilah yang membuat pengerajin Bali menjadi menangis dan tertidur panjang dan pada akhirnya akan berdampak pada matinya ekonomi Bali.
Putri Koster mencontohkan, selain produksi kain endek hasil tenunan tradisional, ada lagi produk kain songket yang dibawa ramai-ramai ke Bali.
“Kita tidak bisa melarang orang luar memproduksi, ketika kain songket luar Bali ramai-ramai dibawa ke Bali, harga kain songket di Bali bisa nyungsep,” ujarnya.
Putri Koster menambahkan, ketika dihitung harga, sesungguhnya kain songket Bali tidak begitu mahal. Harga kain menjadi mahal karena produk songket Bali diproduksi secara tradisional dan itulah yanv membuat harga menjadi lebih mahal. Putri Koster berharap, seluruh kader partai PDIP di semua tingkatan harus mampu menumbuhkan fanatisme masyarakat Bali, merasa bangga buatan Indonesia akan memakai produk Bali.
Diharapkan, adanya perlindungan terhadap produk kain endek hasil produksi tradisional pengerajin Bali, Perda dan Pergub disosialisasikan oleh semua kader partai. Dengan demikian produk hukum dapat dilaksanakan dengan baik.
“Kalau tidak, Perda dan Pergub akan menjadi macan ompong tidak bisa diwujudkan dalam masyarakat. Mari bersama-sama Perda dan Pergub dilaskanakan kita jangan terus terlena dengan budaya luar,” pintanya sembari menambahkan sejelek yanh kita punya, kita bangga pakai produk sendiri.
Putri Koster menambahkan dalam desain produk endek trandisional Bali, hasil dari lomba desain ini bisa digunakan masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) disemua kabupaten kota. Namun, harus memperhatikan etika dan estetika disesuaikan dengan motif dan warna.
“Kalau untuk ke kantor dimodifikasi sehingga bisa membedakan mana pakaian ke pura dan untuk ke kantor,” pintanya.
Sementara Dewan Juri yang juga Ketua Jurusan Desain ISI Denpasar Tjok Istri Ratna Cora Sudarsana menyampaikan apa yang dilakukan Gubernur Bali dengan menerbitkan Perda dan Pergub, menunjukan gubernur telah memayungi tekstil Bali. Tjok Istri Ratna mengatakan, Bali punya produk yang terkenal tetapi diproduksi masal oleh pabrikan. Hal itu membuat kreatifitas Bali ditekan sehingga berdampak pada ekonomi. Diharapkan Perda dan Pergub mampu menguatkan budaya Bali melalui busana yang mulai dari wastra dan kebaya. “Apa yang kita miliki harus diperjuangkan secara terus menerus,”pintanya.
Dalam kesempatan tersebit pihaknya terus melakukan research terhadap wastra wastra Bali, sehingga tidak kalah dengan luar negeri. Pihaknya juga berkeinginan mencetak generasi emas Indonesia. Sebab, banyak hasil karya Indonesia termasuk Bali ada di musium Belanda.
“Kita memiliki kewajiban untuk menarik kembali produk dan mengenalnya,” tandasnya.
Sementara tim juri Anak Agung Ngurah Anom mengatakan kalau zaman sekarang bangga memamerkan barang imitasi. Berbeda dengan dulu, lebih bangga memiliki produk asli Dalam kesempatan tersebut, Agung Anom menjelaskan proses berkarya mendesain yang menghasilkan sesuatu yang bisa dipakai orang lain. Diharapkannya ide awal harus mengetahui apa yang akan dibuat dan bahan digunakan. Menurutnya bahan tersebut akan berpengaruh terhadap siapa yang memakai. Baik yang kurus maupun cocok dipakai untuk semua orang.
Diharapkannya dalam pemilihan bahan hendaknya dicari bahan kualitas bagus yang bisa dilihat mulai dari serat tenunannya. Biasanya kalau produk asli tenunan Bali serat sisir tingkat kerapatannya sangat bagus, semakin rapet semakin bagus dan beda dengan kain pabrikan.
“Perhatikan motifnya, warnanya harus tampil dalam rancangan serta perhatikan dengan benar cara memotong pola yang benar,” pintanya.
Seperti diketahui dalam lomba desain diikuti 136 orang pelajar SMA/SMK dan Mahasiswa di Bali. Diharapkannya lomba ini menjadi bagian untuk membangkitkan perekonomian ekonomi Bali. Hasil desain ini bisa dimanfaatkan untuk desain pakain pada instansi pemerintah maupun swasta di Bali. Para juara diberikan hadiah uang pembinaan Rp 10 juta untuk pertama. Juara kedua diberikan Rp 7,5 juta, juara ketiga Rp 5 Juta. (arn)








