
KLUNGKUNG- Seorang anak seharusnya diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh berkembang secara optimal. Sehingga anak memiliki masa depan yang lebih baik sebagai generasi penerus bangsa.
Tapi tidak demikian adanya, saat masa pandemi,eksploitasi anak mulai marak. Di Kabupaten Klungkung misalnya, banyak ditemukan anak-anak berjualan tisu di tempat-tempat umum seperti pasar senggol, trafic light (lampu merah), depan toko. Mereka ini bukan mengemis, namun berusaha menjual tisu kepada warga.
Seperti tampak, Minggu 11 April 2021 di dekat simpang empat Pasar Galiran, ada sejumlah anak-anak ‘berjaga’ di dekat trafic light. Begitu lampu merah menyala, anak-anak ini langsung mendekati pengendara yang berhenti sambil menawarkan tisu.
Kepala Dinas Sosial Pemerdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Klungkung Gusti Ngurah Agung Putra Mahajaya mengaku sering kali melihat anak-anak berjualan tisu di tempat-tempat umum. Mahajaya tegas menyatakan, anak-anak itu bukan warga Klungkung. Sebab, dirinya sudah pernah melakukan pembinaan berupa teguran kepada anak-anak dimaksud.
“Di Pasar Senggol pernah lihat, di Tiingadi juga pernah lihat. Sudah pernah lakukan pembinaan kepada anak-anak itu. Kadang ketemu dengan orang tuanya, kadang tidak. Seperti di Tiingadi sama sekali tidak ketemu dengan orang tuanya,” ungkap Mahajaya.
Ia mengatakan, semua itu dilakukan karena faktor ekonomi, terlebih saat masa pandemi. Meski demikian, Mahajaya melihat itu merupakan eksploitasi anak. “Saat masa pandemi itu (jualan tisu) yang dilihat berpotensi. Pengakuan mereka tidak ada yang mempekerjakan. Itu pengakuan mereka, tapi seperti apa faktnya saya tidak tahu,” tandas pejabat asal Badung ini. Mahajaya melihat sebagai akibat dari eksploitasi terhadap anak bisa berdampak buruk terhadap kejiwaan anak.
“Disini pentingnya orang tua memahami kehidupan dunia anak. Sebab anak belum memahami tentang hak-hak mereka,” demkian Mahajaya. (yan)








