Pandemi Covid Belum Berlalu, Tradisi Tektekan Desa Adat Kediri Ditiadakan

0
117
Tradisi tektekan di Desa Adat Kediri , tabanan yuang biasa digelar menjelang Hari Raya Nyepi kini ditiadakan karena pandemi Covid-19

TABANAN – Pandemi Covid-19  masih berlangsung membuat beberapa tradisi yang  biasa ada saat pengerupukan atau menjelang Hari Raya Nyepi akhirnya ditiadakan kembali seperti tahun lalu. Salah satunya tradisi tektekan di Desa Adat Kediri, Kecamatan Kediri, Tabanan yang biasa digelar menjelang Hari Raya Nyepi, tahun ini kembali ditiadakan. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, desa adat Kediri menghaturkan guru piduka.

Penyarikan (sekretaris) Desa Adat Kediri, I Gusti Ngurah Putra Mahendra mengatakan, sesuai dengan arahan Majelis Desa Adat (MDA) dan PHDI serta pemerintah, segala kegiatan upacara terkait dengan pengerupukan tetap dilaksanakan seperti biasa namun disederhanakan. Sementara kegiatan yang sifatnya ramai dan bisa menimbulkan kerumunan orang banyak, seperti pengarakan ogoh ogoh maupun tradisi yang biasa digelar seperti tradisi tektekan di Kediri sementara tidak dilaksanakan.

“Kami mengikuti instruksi MDA dan Pemerintah, terkait dengan penanganan Covid-19 agar tidak terjadi kerumunan dan menjadi klaster penyebaran, sementara tradisi tektekan tahun ini tidak digelar sama seperti tahun kemarin,” ungkap IGN Putra Mahendra, Minggu 7 Maret 2021.

Begitu juga dengan kegiatan upacara pemelastian, lanjut kata Gusti Putra Mahendra untuk memohon toya segara juga dilakukan oleh perwakilan saja seperti pemangku, serati dan perwakilan adat.

Toya segara ini  kami bawa ke Bale Agung untuk selanjutnya dibagikan pada krama, jadi tidak ada pemelastian, krama sifatnya hanya ‘ngayat’, dan pelaksanaan pecaruan tawur kesanga tetap berjalan,”  katanya.

Sementara Camat Kediri I Made Murdika menegaskan untuk Kecamatan Kediri sudah sepakat tidak melaksanakan upacara melasti ke pantai. Masyarakat akan melaksanakan ‘ngubeng’ tentu dilakukan secara terbatas.

“Kami sudah menggelar rapat melibatkan bendesa adat, sesuai edaran dari PHDI dan MDA agar Upacara Nyepi dilakukan terbatas, untuk itu kami putuskan tidak menggelar upacara melasti ke pantai.  Ini untuk keamanan kita bersama  mudah-mudahan kasus cepat selesai,”terangnya.

Sekedar diketahui, setiap pengerupukan Desa adat Kediri selalu menggelar tradisi tektekan. Warga setiap banjar menampilkan   nektek dengan membawa alat bunyi-bunyian seperti okokan berukuran besar serta alat lain yang bisa dipukul dan menghasilkan bunyi. Kegiatan ini tidak hanya melibat kaum pria juga ibu-ibu dan remaja. Tradisi ini digelar untuk menetralisir bhuta kala maupun menghilangkan wabah yang menyerang desa maupun warga. (jon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here