
KUTA – The London School of Public Relation (LSPR) mencanangkan gelaran kampanye internasional bertajuk ‘Bali Shanti Campaign’. Tujuan utamanya untuk menjaga budaya Bali.
“Kami akan membuat Bali Shanti Campaign. Ini sebenarnya tujuan utamanya adalah bagaimana menjaga culture (budaya) Bali. Seperti yang kita ketahui bersama, akhir-akhir ini ada situasi yang mungkin menurut kita kurang kondusif. Banyak kita lihat, dengar, dan tonton adanya turis mancanegara yang kurang proper di Bali. Tentunya kita berharap nanti ke depannya hal semacam itu tidak akan terjadi lagi, sehingga memang budaya Bali betul-betul bisa terjaga dengan sangat baik,” sebut Rektor LSPR, Dr Andre Ikhsano, belum lama ini.
Implementasinya itu, sambung dia, akan coba dibuat berbagai macam duta dari orang-orang asing. Dengan itu, maka komunikasi yang dilakukan diharapkan dapat lebih mengena, lantaran sesama warga asing.
“Jadi narasi utamanya sebenarnya kita ingin betul-betul menjaga bahwa Bali itu tidak cuma bicara pariwisata. Tapi kita ini intinya adalah culture. Bahwa dengan culture yang baik dan terjaga, maka otomatis pariwisata akan datang, dan ekonomi bangkit berkali-kali lipat. Itulah narasi sebenarnya,” sambungnya.
Pendekatan budaya, sambung dia, kesannya memang tidak menuju sasaran secara langsung. Namun demikian menurut LSPR, budaya adalah esensi utamanya.
“Budaya yang terjaga dan lestari, adalah poin utama daya tarik untuk meningkatkan potensi-potensi ekonomi,” tambahnya.
Disampaikannya pula, kampanye tersebut adalah sejalan dengan dengan komitmen LSPR. Yakni memperluas pendidikan reputation management (pengelolaan reputasi) yang berfokus pada pemahaman budaya. Terutama kearifan lokal dari masyarakat Bali.
“LSPR memiliki sumber daya dan kapasitas yang mumpuni di bidang pengelolaan reputasi kebudayaan. Kapasitas ini akan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi masyarakatnya,” sebutnya.
Komitmen itu pun katanya telah disampaikan dan mendapatkan tanggapan positif dari Gubernur Bali Wayan Koster. Perluasan pengelolaan reputasi dipandang sebagai suatu hal yang sangat penting, agar tetap relevan dengan kemajuan jaman.
Terlebih kaitan dengan perkembangan perilaku turis asing yang kurang mengindahkan kesopanan budaya Bali. Namun itu dipastikan tetap terkendali berkat kuatnya kultur Bali dalam memelihara kesucian budaya. (adi/jon)








