
DENPASAR – Ribuan warga menyaksikan pelebon Raja Denpasar IX Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan, Rabu (21/6/2023).
Kemegahan bade tumpang sebelas dan lembu yang diarak warga dalam proses pelebon kali ini menjadi perhatian warga sepanjang jalan dari Puri Denpasar menuju Setra Badung.
Pada prosesi puncak ratusan seniman dilibatkan dalam mengiringi keseluruhan rangkaian prosesi pelebon (pembakaran jenazah).
Anak Agung Ngurah Gede Dharmayuda selaku Ketua Panitia Karya Pelebon Raja Denpasar IX di Denpasar menyebut sekitar 700 orang seniman dilibatkan dari prosesi pertama sampai pelebon.
“Khusus untuk puncak pelebon saja dilibatkan sebanyak 500 seniman. Ada seniman yang terlibat dua kali. Seperti pada 15 Juni lalu melibatkan satu barungan gamelan dengan sekitar 50 orang, sebelumnya juga yang sudah berjalan melibatkan seniman sehingga kalau dikalkulasikan sekitar 700 orang kurang lebih,” ungkapnya.
Para seniman selain memainkan alat musik gamelan, juga ada yang membawakan tari topeng, tari baris katekok jago, dan lainnya.
Jalanya upacara puncak pelebon yang mengambil tingkatan Sawa Ngasti Wedana tersebut dipuput 12 orang sulinggih.
Para sulinggih itu ada yang bertugas muput (memimpin ritual) di Setra Badung, ada yang megayot (ditandu), ada yang berada di atas bade (tempat jenazah) saat iring-iringan menuju Setra Badung hingga yang memimpin doa saat abu jenazah dilarung ke laut.”Sebagian besar merupakan sulinggih dari Kota Denpasar dan hanya satu sulinggih dari Griya Budha Sukawati, Gianyar,” jelas Dharmayuda.
Prosesi pelebon menggunakan bade tumpang (tingkat) 11 setinggi 22 meter dan jenazah dibakar menggunakan lembu berwarna putih.”Tingkatan upacara yang paling utama yang kami ambil karena memang Beliau seorang abiseka (telah dinobatkan raja). Kalau Beliau tidak abiseka mungkin tingkatan upacara lebih rendah dan tidak menggunakan bade tumpang (tingkat) 11. Namun cukup sampai tumpang 9 saja,” ucapnya.
Terkait penunjukan Raja Denpasar selanjutnya, Dharmayuda menerangkan hal tersebut pastinya akan dirembukkan kembali di dalam keluarga puri hingga griya.”Jadi, kami akan meminta pertimbangan kira-kira siapa yang pantas untuk meneruskan tahta atau tugas-tugas Puri selaku pengayom dan sebagai hulu atau ujung keluarga besar di Puri Denpasar,” katanya.
Menurut Dharmayuda, akan ada pembicaraan lebih lanjut apakah nanti akan dilanjutkan dengan penglingsir (tokoh tetua) saja atau bagaimana.
Sebagai seorang penerus nantinya akan memiliki tanggung jawab yang cukup besar tak hanya bertanggung jawab bagi puri saja. Namun juga bertanggung jawab kepada keluarga besar, masyarakat luas, hingga pemerintah.
“Jadi, harus dicari figur yang tahu, mapan, cakap untuk hal-hal seperti itu,” kata pria yang juga Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Denpasar ini.
Sementara itu, prosesi arak-arakan mendapat perhatian dari kalangan wisatawan domestik dan mancanegara tampak terlihat dengan bersemangat menyaksikan dan mengabadikan prosesi pelebon Raja Denpasar IX mulai dari kawasan Patung Catur Muka yang merupakan titik nol Kota Denpasar.
Iring-iringan layon (jenazah) dari raja yang wafat di usia 80 tahun pada 18 Februari 2023 tersebut, dimulai dari Puri Agung Denpasar di Jalan Veteran No 62 Denpasar.
Jenazah yang sebelumnya digotong dari Puri Denpasar menggunakan bedusa (peti berbentuk sarkofagus) kemudian dinaikkan ke atas bade tumpang (tingkat) 11 setinggi 22 meter dengan menggunakan tragtag (tangga) di kawasan Patur Catur Muka.
Rangkaian iring-iringan jenazah tak saja diisi wanita pembawa sesajen dan perlengkapan upacara pelebon, juga tampak kereta kuda yang dinaiki oleh keluarga Puri Denpasar, barisan perwakilan Raja-Raja Nusantara dari sejumlah kerajaan dan keraton di Tanah Air.
Selain itu ada juga barisan sebanyak 16 “pengiring” atau warga yang keluarganya telah meninggal yang juga melaksanakan prosesi pengabenan. Kemudian barisan penari Baris Poleng Katekok Jago, pengarak ogoh-ogoh dan lembu putih serta barisan penabuh yang memainkan berbagai jenis gamelan.
Iring-iringan dari Patung Catur Muka di titik nol Kota Denpasar selanjutnya menuju Jalan Udayana dan berbelok menuju Jalan Hasanuddin serta berakhir di Setra (kuburan) Badung di Jalan Imam Bonjol Denpasar.
Rangkaian persiapan prosesi Pelebon Raja Denpasar IX telah berjalan selama empat bulan dan puncaknya pada Rabu (21/6) ini dapat terlaksana berkat kerja sama dukungan keluarga besar Pasemetonan Ageng Puri Agung Denpasar.
Dharmayuda menyebut, sebanyak 28 puri yang tersebar di berbagai daerah di Bali ada di bawah Puri Agung Denpasar. Semua yang memiliki hubungan kekerabatan tersebut turut serta mengiringi almarhum Raja Denpasar IX menuju tempat pembakaran di Setra Badung.(sur)








