
GIANYAR – Meski libur lembaran tinggal menghitung hari, tapi tak memengaruhi hunian hotel di kawasan wisata Ubud, Gianyar, terutama dari wisatawan lokal.
Ketua PHRI Gianyar Pande Mahayana Adityawarman mengatakan bahwa okupansi hotel non bintang dan bintang hingga pertengahan April 2023 ada di kisaran 60 hingga 70 persen.
“Ini mungkin disebabkan bersamaan dengan paskah,” ujar Minggu (16/4/2023).
Menurutnya, selama ini wisatawan domestik yang berkunjung ke Ubud saat libur Lebaran hanya sebatas berekreasi dan tidak menginap.
“Mereka datang ke Ubud untuk tujuan wisata restoran daripada menginap,” ungkapnya.
Pihaknya sudah melakukan upaya melalui promosi untuk meningkatkan hunian, tapi belum berdampak signifikan terhadap tingkat hunian.
“Kami dari asosiasi maupun hotel berusaha promosi di market domestik tapi tetap memang siklusnya begitu, tidak menjeneralisasi memang ada satu dua hotel yang kuat memang dari dulu market domestiknya, ” ungkapnya.
Ia menyebut dari 60 persen okupansi, domestik secara global di bulan Maret hanya 10 persen.
“Harga Ubud tinggi, jumlah kamar lebih sedikit harga lumayan tinggi. Orang datang ke Bali masih ingin pantai, hiburan keluarga malam hari siang hari. Kalau Canggu banyak restoran, waterpark. Ke Ubud paling tidak menikmati alam, Taman Safari, Bali zoo, tapi tidak untuk menginap,” bebernya.
Di sisi lain, pihaknya tetap berhap mengenai masalah klasik di Ubud, bisa atasi berama stake holder terkait. Sebab banyak wisatawan liburan dari Jawa ke Bali.
“Banyak naik mobil ke Bali, bagaimana kendaraan tidak macet. Bagaimana dari kepolisian lalu lintas, Dishub bisa mengatur arus lalin yang bagus. Tertibkan parkir pinggir jalan atau bahu jalan. Demi kenyamanan wisatawan, karena sedikit-sedikit komplain di sosmed, yang akan mempengaruhi citra Ubud,” tandas Pande Adit. (jay)








