
TABANAN – Kasus sekolah ambruk kembali terjadi di Tabanan. Atap bangunan SD 3 Kukuh, Marga, Tabanan ambruk setelah diguyur hujan deras, Rabu (26/10/2022) dinihari. Ruangan di bagian barat yang digunakan untuk kelas 1,2 dan 3 tersebut ambruk di bagian kelas 3. Seorang anak nampak termangu melihat sekolahnya hancur
Informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 03.00 Wita. Hal tersebut berdasarkan keterangan saksi yang tinggal di barat sekolah naas tersebut. Beruntung ambruknya atap gedung sekolah tersebut terjadi dinihari. Sehingga tidak ada korban jiwa atau luka-luka karena sekolah kosong.
Kapolsek Marga AKP I Wayan Suta Arcana ketika dikonfirmasi menjelaskan, ambruknya atap banguan SD 3 Kukuh, marga tersebut diketahui sekitar 07.00 Wita ketika Endang Liswati yang tinggal dibelakang rumah mendengar suara keras, sekitar pukul 03. 30 Wita. Namun saksi baru melihat pagi harinya dan melihat atap bangunan sekolah berukuran 7 X 8 meter buatan tahun 1978 tersebut ambruk.
AKP Suta Arcana mengatakan, begitu pihaknya mendapat laporan langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengamanan. Karena hari sekolah, pihaknya langsung memasang garis polisi mencegah ada yang masuk ke gedung tersebut.
Dari keterangan guru, bangunan yang roboh memang sudah tidak digunakan untuk kegiatan belajar. Mengingat kondisi sudah agak rapuh dan sudah dilaporkan sebelumnya kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan. Bangunan yg roboh, terakhir kali dilakukan rehab ringan pada tahun 2008.
“Dari kondisi di lapangan,banguan memang sudah tua dna kayunya sudah lapuk sehingga sangat rentan ambruk. Apalagi ditambah guyuran hujan deras, beratnya genteng tidak mampu lagi ditahan sama rangka atap. Akibat kejadian ini, kerugian diperkirakan Rp200 juta,” jelasnya.
Menurut keterangan saksi Endang Liswanti, ia mendengar suara ‘brug’ di sebelah rumahnya. Awalnya ia tak menyangka, suara tersebut berasal dari salah satu ruang kelas di sekolah tempat ia mengajar. Ia pun mencoba mengecek lokasi suara ketika hari mulai terang. Dia terkejut melihat atap ruang kelas 3 ambruk.
“Kejadiannya sekitar pukul 03.30 wita, saat itu terdengar suara brug, setelah dicek ternyata atapnya sudah ambruk,” jelasnya.

Kepala SD Negeri 3 Kukuh, Ni Nyoman Sudi Ratnadi menjelaskan, tiga ruang kelas dalam satu bangunan yang diperuntukkan untuk kelas 1, kelas 2 dan kelas 3 ini memang sudah enam bulan lalu dikosongkan. Hal ini lantaran kondisi atap diruang kelas 3 (yang roboh) saat ini sudah dalam kondisi rusak dan miring, sehingga dikhawatirkan membahayakan bagi siswa.
“Sudah enam bulan, siswa kelas 3 belajar di ruang perpustakaan, sedangkan untuk kelas 2 kami terapkan shift siang gantian dengan kelas 1, karena dari tiga ruang kelas ini, hanya ruang kelas 1 yang tadi dicek masih bisa digunakan, sedangkan ruang kelas 2 yang posisinya dekat dengan ruang kelas 3, sangat riskan roboh juga,” ucapnya.
Terkait dengan kejadian ambruknya atap ruang kelas 3, Sudiratnadi mengatakan dirinya mendapatkan informasi dari Endang Liswanti yang juga seorang guru setempat dan tinggal tepat di sebelah gedung bangunan sekolah.
“Saya tahu setelah mendapat laporan dari salah satu guru,” sebutnya.
Ditambahkan, bangunan sekolah yang berdiri sejak tahun 1978 ini, sudah pernah dilakukan rehab hanya skala ringan. Bahkan dari pihak sekolah juga telah mengajukan permohonan untuk bisa mendapatkan bantuan rehab ruang kelas sekolah dari DAK. (jon)








