
DENPASAR – Jari jemari dan tangan Pande nampak lugas mengikuti lengan yang bergerak penuh energi. Senyum simpul dan sorotan mata tajam sesekali ia tunjukan. Dihadapannya ratusan pasang mata penonton tak berhenti memperlihatkan kekaguman.
Sore itu, bersama 120 temannya, pemuda 16 tahun itu adalah pemilik panggungnya. Ratusan pengunjung PKB ke 48 tahun 2026, berdesak-desakan, ingin menyaksikan pementasan itu. Diantara itu dua orang guru tari memberikan kode setiap ketukan tempo nada untuk Pande dan teman-temannya.
Ternyata Pande tidak bisa mendengar, ia salah satu penyandang disabilitas tuna rungu dan wicara asal Bangli. Mereka menari dalam kesunyian namun mampu membius para penonton. Keluarga dengan penuh haru dan harapan menyaksikan putra dan putrinya berliak-liuk diatas karpet merah panggung Angsoka.
Jumat (19/6/2026) sore, panggung itu milik mereka. Ratusan siswa disabilitas menunjukan keterbatasan tak menghalangi jiwa mereka untuk berkesenian. Sesui dengan tema PKB Atma Kerti Ngardi Jiwa Paripurna. Pentas di PKB memberikan jiwa mereka harapan. Meski ditengah kesunyian telinga mereka, namun sorot matanya memberikan semarak yang penuh suka cita.
Mereka membawakan tari Kembang Janger. Tari yang diciptakan tahun 70an. Menceritakan pergaula muda mudi di masyarakat. Liak-liuk mereka membawa kecerian ke penonton. Butuh waktu satu bulan penuh untuk latihaan agar pementasanya sukses.
Dibalik itu semua, ada proses yang tidak instan. Melatih mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran memerlukan kesabaran, konsentrasi, dan strateginya pas.
“Anak didik kami ber enam, laki-perempuan, semuanya tidak mendengar dan bicara, Supaya mereka mau latihan dengan maksimal itu harus di rayu. Pake mood mereka, ” ujar Guru tarinya Pande Nyoman Sunartha dari SLB Negeri 1 Bangli usai pementasan.
Hal yang mengharukan, ditengah keterbatasan yang mereka miliki, bakat Tari memberikan mereka motivasi. “Mereka menjadi lebih fokus. Lebih desiplin. Lebih percaya diri. Ingin menunjukan kepada masyarakat agar tidak memandang mereka sebelah mata,” jelasnya.
Diantara penting, nampak Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Provinsi Bali, I Wayan Mudayana, ia mengatakan, ini merupakan penampilan yang kedua setelah sebelumnya sukses tampil pada ajang PKB ini.
Semangat tim kesenian SLB Provinsi Bali ini begitu tinggi. Mereka yang tampil merupakan perwakilan dari SLB yang ada di seluruh kabupaten dan kota di Bali. Masing-masing SLB membawakan pementasan yang sudah disiapkan sejak awal.
“Di samping untuk melestarikan budaya Bali bagi anak-anak berkebutuhan khusus, partisipasi Satuan Pendidikan Khusus (SLB) ini juga bentuk komitmen untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak kita dalam melatih kemandirian, menunjukkan talenta mereka, bahwa mereka sesungguhnya mempunyai kelebihan yang sama pada anak-anak pada umumnya,” jelasnya.
Rekasadana (Pergelaran) Tari Bali ini diawali dari SLB Negeri 1 Denpasar yang mementaskan Tabuh Penegak Palawakia merupakan komposisi musik instrumental khas Bali yang berfungsi sebagai musik pembuka, dan Tari Selat Segara yang merupakan tari kreasi baru khas Bali yang berfungsi sebagai Tari Penyambutan untuk menyambut tamu kehormatan.
SLB Negeri 1 Karangasem menyajikan Tari Kreasi Nitya Bhakti, SLB Negeri 1 Tabanan menyajikan Tari Kreasi Iswari, SLB Negeri 1 Gianyar mementaskan Tari Wirayuda, SLB Negeri 1 Badung menampilkan Tari Galang Bulan, SLB Pradnyagama menyajikan seni vocal lewat bernyanyi sambil memainkan alat musik tradisional.
SLB Negeri 1 Bangli kembali menyajikan kesenian tradisi berupa Tari Kembang Janger. SLB Negeri 2 Denpasar lalu menyajikan Tari Sapuh Guna, SLB Negeri 1 Klungkung menunjukan bakatnya melalui Tari Kreasi Bebarisan Swatantra, SLB Sushrusa menyajikan Tari Kreasi Tradisi, sebuah tari kreasi yang dibalut dengan pakem tradisi. SLB Negeri 3 Denpasar kemudian menyajikan Drama Tari Cupak Grantang. (*)








