
TABANAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan terus melakukan penanganan dampak bencana alam akibat hujan deras yang terjadi Senin (17/10/2022). BPBD juga terus melakukan pendataan bencana di tiap kecamatan. Dari data sementara ada sekitar 100 titik lokasi bencana menyebar di sepuluh kecamatan yang sudah dilaporkan.
Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Sri Nadha Giri mengatakan, pasca kejadian hingga Rabu (19/10/2022) petugas TRC BPBD masih melakukan penanganan di sejumlah titik. Pasalnya saat kejadian yang cukup banyak terjadi pada Senin, petugas BPBD menerapkan skala prioritas dalam hal penanganan seperti di jalur utama yang banyak dilintasi kendaraan.
“Senin kemarin cukup kewalahan juga, petugas kami sedikit hanya 25 orang yang aktif, sedangkan titik lokasi bencana menyebar di seluruh kecamatan, termasuk alat alat berat penanganan bencana kami tidak punya, biasanya koordinasi dengan dinas terkait seperti PU ataupun menyewa ,” terangnya, Rabu (19/10/2022) ditemui di Pura Campuhan, Ganter, Desa Abiantuwung, Kediri.
Terkait penanganan bencana kali ini, Pemerintah Kabupaten Tabanan menyiapkan dana bencana sebesar Rp 7 miliar. Pemanfaatan dana bencana akan menggunakan skala prioritas. Khususnya untuk perbaikan infrastruktur jalan penghubung. Sehingga arus penyaluran logistik tidak terhambat.
“Di induk dapat Rp 5 miliar sudah habis untuk penanganan bencana sebelumnya, kali ini disiapkan lagi Rp7 miliar lagi,”ucapnya.
Sementara itu, akibat banjir bandang Sungai Yeh Sungi, di wilayah Desa Abiantuwung, Kediri ada delapan pura dan dua jembatan yang ada di p[pinggiran sungai hanyut tersapu banjir. Selain itu ada juga bendungan atau DAM juga hancur.
Seperti diungkapkan perbekel Abiantuwung I Gusti Agung Ngurah Bayu Pramana, delapan pura yang hancur seperti Pura campuhan Banjar Ganter, hanyut 4 pelinggih dan penyengker keliling dan bangunan sambyangan.
Pura Beji Taman banjar Ganter. Bangunan sambyangan dan penyengker. Pura Empelan Sidi Karya, Banjar Tapesan , pewaregan dan penyengker hanyut. Pura Buke di Banjar Tapesan yang rusak pelinggih dan penyengker dan sambyangan dalam posisi miring. Pura Beten Jepun, Banjar Tapesan, Bangunan sambyangan, penyengker, pelinggih semua habis tersapu banjir tinggal pondasi pura.
Pura Anyar atau Pura Luhur di Banjar Tapesan, Penyengker dan 9 Pelinggih, sambyangan hanyut, tinggal apit surang, bale gong dan pewaregan. Pura Beji Sudamala, Banjar Suralaga mengalami kerusakan pada bangunan sambyangan dan penyengker miring. Pura Beji Beten Waru di Banjar Pasekan, rusak di bagian penyengker hanyut. Pura guru beten kangin yang dalam lokasi bersebelahan dengan pura beji beten waru.
Selain itu, jembatan penghubung Banjar Yangapi dengan Banjar Tapesan sepanjang 23 meter dengan lebar 1,5 meter hanyut. Hanyutnya jembatan ini menyebabkan siswa yang sekolah di SMPN 5 Kediri harus memutar ke jalan utama sepanjang 5 kilometer. Satu lagi jembatan yang menghubungkan banjar Suralaga dengan Ganter panjang 20 meter dan lebar 3 meter putus. Jembatan ini juga akses ke sekolah.
Bendungan Yeh Mundeh, Banjar Tapesan dan saluran irigasi subak mundeh mati total yang mengairi subak di Desa Nyambu Kediri.
“Kami sudah melapor ke Balai Wilayah Sungai Bali Penida. Kalau kerugian material maupun non material belum dihitung. Perkiraannya sampai miliaran,” sebut perbekel Abiantuwung. (jon)








