
JEMBRANA – Terputusnya akses jembatan gantung di Banjar Nusamara, Desa Yehembang Kangin Kecamatan Mendoyo. Akibat terjangan banjir bandang setahun silam, kini menyisakan persoalan baru, bagi warga yang bermukim di sana.
Sedikitnya ada 60 KK yang bermukim di sana. Selain terisolir juga kesulitan mengeluarkan hasil bumi maupun mencari kebutuhan sehari–hari. Demikian pula anak- anak sekolah, harus rela menyeberangi sungai dengan cara digendong para ortunya untuk bisa ke sekolah.
Parahnya saat musim penghujan, Sungai Nusamara kerap meluap. Dengan terpaksa para murid ini urung berangkat ke sekolah. Kondisi tersebut diakui Mangku Made Latra, penglingsir di Banjar Nusamara.

Sejak terputusnya jembatan , sebagian besar warga berharap segera dibangun jembatan baru agar masyarakat tidak terus menerus terisolir. Ini sudah hampir satu tahun lebih, akibat terputus jembatan terkena terjangan banjir.
“Warga kami dibuat serba kesulitan. Tak hanya persoalan menjual hasil bumi, persoalan lainnya untuk mencari kebutuhan sehari hari ke seberang, mereka juga sangat susah,” terangnya kepada awak media Selasa (27/9/2022).
Dikatakan Mangku Made Latra, selain persoalan perekonomian, hasil bumi yang sulit dibawa keluar, kalangan siswa sekolah juga kesulitan menyeberangi sungai yang arusnya deras.
“Setiap ke sekolah para orang tua murid mengantarkan anaknya berangkat maupun pulang sekolah dengan cara digendong,” jelasnya. Ada puluhan siswa, tidak hanya siswa SMA maupun SMP, siswa SD utamanya terpaksa diantar orang tua untuk menyeberangi sungai.
Latra berharap persoalan ketiadaan akses jembatan bisa segera ditangani agar tak menjadi berlarut larut.
Sementara Perbekel Yehembang Kangin I Wayan Suardika mengaku semenjak terputusnya akses jembatan Nusamara, pihak desa sudah membuat laporan terkait kebencanaan. Laporan tersebut sudah disampaikan ke Pemkab bahkan DPRD Jembrana untuk mendapatkan penanganan. (ara,dha)








