
SAWAH atau uma bagi masyarakat Bali tak sekadar media bertani. Bagi masyarakat agraris, bertani merupakan salah satu upaya kebertahanan pangan yang sarat nilai edukasi, religius dan kultural.
Dalam proses bertani, masyarakat ‘diajarkan’ untuk memuliakan tanah, menjaga air dan memelihara ekosistem makhluk hidup serta bersyukur atas anugerah Tuhan.
Pada proses itu, ada ritual (nilai religius) menyertainya, seperti prosesi mapag toya, mewinih, biyukukung, mantenin padi dan sebagainya. Kemudian di waktu jeda bertani, masyarakat agraris melakukan aktivitas berkesenian. Banyak seni lahir dari budaya padi yang diwariskan dari generasi ke generasi, hingga kini.
Demikian strategisnya fungsi sawah, maka ketika belakangan terjadi alih fungsi lahan secara masif, bagaimana ‘nasib’ nilai-nilai yang ada dalam aktivitas bertani?
Perupa Ketut Putrayasa tampaknya mencoba mewartakan hal itu melalui karya instalasi bertajuk ‘The Last Stronghold’ atau benteng terakhir.
Karya itu menggunakan media anyaman bambu, menyerupai tiga mata bajak, berderet tegak menengadah ke langit, dilengkapi dengan karya berbentuk bulir padi. Seni instalasi tersebut dipajang di hamparan sawah, di salah satu subak di Kecamatan Tegallalang, Gianyar.
Ditemui pada Sabtu (27/8/2022), Putrayasa mengatakan, melihat hadirnya sawah-sawah atau ladang yang menghijau, bukanlah medium atau instrumen untuk sekadar menanam padi dan sejenisnya.
Pemilik Rich Stone ini menambahkan, sawah merupakan ruang-ruang imaginer, serta tatanan pengetahuan masyarakat agraris dalam membangun hubungan sosial serta ruang budayanya.
Ia menjelaskan, The Last Stronghold merupakan bahasa ungkap atas problemetika sawah serta kondisi subak saat ini di Nusantara, khususnya di Pulau Dewata.
Putrayasa melihat dan membacanya secara holistik lewat karya seni rupa. Memang, mempertahankan ruang -ruang hijau sawah dalam situasi saat ini sangat sulit. Tetapi melihat kondisi sawah saat ini, hal ini bisa sebagai bahan perenungan atau kontemplasi.
Menjadi sebuah catatan, apakah sawah itu sangat penting untuk dipertahankan? Bukankah ada cara-cara lain yang lebih seksi untuk memenuhi kebutuhan finansial dari pada menanam sepetak padi?
Namun, Putrayasa melihat ada hal penting kenapa sawah harus dipertahankan. Baginya, hubungan sawah dengan masyarakat bukanlah dalam bentuk materi semata, akan tetapi kehadiran sawah dengan konsep subaknya merupakan energi spirit bagi masyarakat. Sawah dalam manifestasinya merupakan benteng dari peradaban agraris.
Terbangunnya hubungan yang harmonis antarmasyarakat dengan lingkungannya (eco culture) merupakan suatu nilai keutamaan hingga saat ini dan belum bisa ditukar dengan sesuatu apapun. (sur)








