
KUTSEL – Asrama mahasiswa ‘Udayana Integrated Dormitory’ gagal terwujud di bulan Agustus ini. Bahkan terpantau di lokasi, fisik bangunannya sama sekali belum dilakukan. Padahal waktu sudah berjalan enam bulan, sejak peletakan batu pertama.
Rektor Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Ir. I Nyoman Gde Antara, MEng.IPU, tidak memungkiri hal tersebut. Meski belum terbangun, dia menegaskan bahwa asrama 6000 bed itu notabene menjadi salah satu target pihaknya.
“Pada prinsipnya kami tetap akan memberikan layanan agar Dormitory bisa membantu mahasiswa. Terutama mereka yang tempat tinggalnya jauh dari kampus,” sebutnya Senin (8/8/2022) lalu.
Dia pun memastikan, apapun yang dilakukan pihaknya tetaplah dalam konteks meningkatkan layanan pendidikan. Sehingga masyarakat tetap mempercayakan putra dan putrinya untuk berkuliah di Unud, karena sudah memiliki fasilitas perkuliahan yang memadai.
Diakuinya, awalnya asrama bersangkutan ditarget siap untuk diisi pada bulan Agustus ini. Namun setelah dilakukan diskusi dengan calon rekanan, maka disimpulkan untuk melakukan penjadwalan ulang.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa wujudkan, walaupun nanti jumlahnya kita sesuaikan dengan kemampuan partner dan waktu,” ucapnya.
Diakui, tidak tertutup kemungkinan realisasi asrama bersangkutan akan dilakukan secara bertahap. Apalagi di sisi lain, masih ada banyak PR yang dirasa juga perlu segera dirampungkan.
“Di samping Dormitory, tentu ruang kelas di Unud harus kita lengkapi. Karena kita ingin sentralisasi perkuliahan di Bukit. Di samping itu, gedung aula ini (Auditorium Widya Sabha) ini kami rasa juga sudah tidak memadai lagi untuk jumlah mahasiswa yang ribuan. Kemudian laboratorium-laboratorium, perpustakaan, rumah sakit, dan lain-lain berkaitan dengan dukungan pelaksanaan bagaimana nanti perkuliahan bisa dilakukan dengan baik. Itu yang menjadi fokus kita di tahun-tahun yang akan datang,” bebernya.
Namun demikian, dia berharap asrama tersebut sudah rampung pada semester berikutnya. Sehingga keberadaannya bisa segera memfasilitasi para mahasiswa yang memang berminat.
“Kami memiliki lahan yang luas sekali. Tinggal sekarang mencari partner dan mitra. Karena kami tidak mampu membangun itu dengan biaya sendiri. Karena kami fokus pada proses pendidikan,” ucapnya.
“Dahulu Waskita Karya Realty. Kemudian ada perubahan manajemen di situ, di internal mereka, ya kami harus juga menyesuaikan,” imbuhnya mengenai partner dimaksud, sembari memohon doa restu agar asrama bisa berjalan sesuai dengan harapan. (adi/jon)








