
GIANYAR – 87 orang kelompok Seni Lukis Kaliasa menggarap lukisan berukuran besar. Karya para seniman itu nantinya dipamerkan untuk para delegasi Presidensi G20.
Seniman Kelompok Seni Lukis Kaliasa itu seluruhnya berasal dari Banjar Kutuh Kelod, Kecamatan Ubud, Gianyar. Nantinya, ada dua lukisan yang digarap.
Pertama, berjudul Harmoni berukuran 10 meter x 2,8 meter dan lukisan kedua tentang Flora Fauna berukuran 7 meter x 1,5 meter. “Dua lukisan besar ini dikerjakan secara kolektif atau gotong royong,”kata Sekretaris Kelompok Seni Lukis Kalisa, I Made Suweta di sela-sela pembinaan di balai banjar Kutuh Kelod, Minggu (17/7/2022).
Para pelukis menggunakan teknik Kutuhisme. Diawali nguwet ; membuat sketsa pembagian bidang komposisi proporsi kemudian nyawi mempertegas sketsa menggunakan spidol atau sejenisnya. Nyelah ; proses memberi kesan gelap terang dan memberi gradasi atas bawah.
Ngabur; memberi detail aksen pada objek lukisan, selanjutnya memberikan kesan warna pada daun kayu dan lainnya. Nyenter; memberikan kontur sinar pada bidang atau objek lukisan. Ngelem ; mempertegas kontur sinar dan memberi kesan cahaya dan nyenter kedua memberi kesan hidup hingga tahap akhir menyempurnakan kesan dimensi pada objek lukisan.
Kedua lukisan ditarget tuntas Oktober 2022.
“Akan dipamerkan di Museum Arma Ubud hingga November 2022, menyambut kunjungan delegasi G20,” ungkap I Made Suweta yang juga Guru Seni SMKN 1 Mas Ubud ini.
Ia mengungkapkan, lukisan berjudul Harmoni mengisyaratkan sebuah pesan damai. Sedangkan Flora-Fauna menyampaikan pesan keharmonisan alam dan indahnya perbedaan.
“Betapa damainya dunia ini ketika kita mampu melestarikan alam. Semua ini dalam hidup berdampingan secara rukun tanpa harus ada yang menyakiti. Terlihat pada lukisan kami semua binatang hidup rukun berdampingan, burung bisa terbang secara bebas, ada sawah yang indah, suara alam terwakili dari air terjun, pura sebagai simbul syukur atas karunia tuhan,” ungkapnya.
Sementara, Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gede Putra Artha Astawa Sukawati yang hadir memberikan pembinaan memberikan apresiasi sekaligus berharap seniman Kutuh Kelod tetap percaya diri dan mempertahankan jati diri.
Menurutnya, Harmoni dan Flora Fauna ini merupakan karya terbesar di Bali bahkan di Indonesia yang dikerjakan secara kolektif.
“Di sini lah terasa spirit gotong royong para pelukis. Walau berbeda karakter, berbeda emosi tujuannya satu. Di balik karya ini ada akumulasi pemikiran yang jenius,” ungkapnya. (jay)








