
GIANYAR – Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Desa Adat Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Minggu (24/2/2022) pagi menggelar tradisi ‘ngedengan’ di setra (kuburan) wilayah setempat.
Dalam tradisi itu, warga adat yang memiliki sapi betina dan telah melahirkan anak wajib membawanya ke setra (kuburan) desa adat yang menjadi tempat pelaksanaan acara. Mereka datang secara bekelompok maupun sendiri.
Jumlah ternak sapi yang dibawa warga mulai pagi hari mencapai ratusan ekor. Setelah terkumpul, prajuru adat melakukan pemilihan anakan sapi jantan dan betina.
Ada dua ekor godel yang kena adegan atau terpilih, yaitu godel jantan milik I Nyoman Redana dan godel betina dibawa oleh I Nyoman Ariana. Nantinya, anakan sapi itu disembelih lanjut diolah untuk upacara tawur kesanga, sehari menjelang Nyepi.
Warga yang ternaknya terpilih mengiklaskan meskipun harga satu ekor godel mencapai jutaan rupiah. Sebab, apabila kena adagan maka dipercaya akan membawa berkah dan keselamatan saat beternak. Bahkan, sebelum melewati tradisi maedeng, mereka pantang menjual godel.
Bendesa Adat Susut I Ketut Kumaranatha mengatakan, tradisi ini telah dilaksanakan secara turun temurun bertujuan memilih sapi jantan dan betina untuk dijadikan ulam saat tawur kesanga.
“Anakan sapi yang dipiih adalah anakan sapi yang mulus. Artinya, tanpa cacat fisik,” kata I Ketut Kumaranatha.
“Warga yang anakan sapinya terpilih pantang menolak karena takut kena sanksi secara niskala bila tidak merelakan godelnya,”ungkap Kumaranatha.
Nantinya, olahan sapi jantan dihaturkan di perempatan agung (catus pata) Desa Pakraman. Sedangkan godel betina dihaturkan di Pura Dalem. (jay)








