
DENPASAR – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 diperkirakan mampu menyumbang Pendapatan Domestik Bruto ( PDB) sekitar 0,14 persen atau nilai tambah bruto Rp 209 miliar dengan income Rp 94,6 miliar dan tenaga kerja meningkat 1,68 persen. Ini berdasarkan hasil studi dilakukan Bank Indonesia.
Hal itu disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda dalam agenda Capacity Building (Capbul) Media Bali dengan tema ‘Presidensi G20 Indonesia, pada Rabu (26/1/2022).
Menurutnya, Bali harus optimis di tengah perekonomian terseok-seok dampak pandemi Covid-19 dengan pertumbuhan ekonomi minus 9 persen. KTT G20 yang djadwalkan November 2022 diharapkan menjadi berkah mendongkrak perputaran ekonomi di Pulau Dewata.
“Selain perhelatan puncak, ada agenda 157 pertemuan side event yang hampir sebagian besar terlaksana di Bali. Sedangkan sisanya menyebar di berbagai kota di Indonesia sejak Desember 2021, “ ungkap Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda.
” Artinya, kita mengajak seluruh masyarakat optimis. Hadirnya G20 memberi andil dan efek yang bagus baik saat acara terlaksana maupun paska event bagi pertumbuhan ekonomi Bali,” imbuhnya.
Rizki Ernadi Wimanda menyadari tidak semua pihak kecipratan secara langsung pelaksanaan G20. Namun, melihat kehadiran para peserta, terlebih sekelas kepala negara, maka banyak orang yang nantinya ikut serta dalam rombongan.
“ Memang ada standar bagi delegasi sekelas bos-bos tak mungkin gunakan hotel melati, ya pasti berbintang. Kendaraanya juga sama, kalau penginapan sebagian besar memang hotel di area ITDC, “ jelasnya.
Lantas, peningkatan jumlah kunjungan sudah pasti, karena ada wisatawan mancanegara dan juga wisatawan nusantara, terutama para panitia. Jumlah panitianya malah jauh lebih besar dari tamu yang diundang atau wisatawan mancanegara. Dampaknya tentu sangat baik bagi perdagangan, transportasi, akomodasi makanan- minuman, jasa perusahaan dan jasa lainnya, termasuk outsourcing juga. “ Walaupun dampak optimisnya sekitar 0,14 persen, tapi harus tetap disyukuri, coba saja dihitung berapa miliar itu kalau PDB dikalikan 0,14 persen,” ungkap Rizki.
Terkait sarana dan prasarana, beberapa venue atau lokasi ditata termasuk toilet di Taman Budaya Art Centre mendapat kucuran ratusan juta dari pusat untuk renovasi.
“ Bali patut bersyukur karena perhatian pemerintah pusat sangat besar agar Bali kembali pulih dari keterpurukan. Mudah-mudahan pandemi lekas berlalu sehingga kita bisa hidup normal kembali,” harapnya.
Rizki juga membeberkan apa saja yang dibahas dalam G20 nanti. G20 atau Group of 20, adalah kelompok 20 negara, merupakan gabungan negara maju dan berkembang. Diantaranya, negara Afrika, Amerika, Arab Saudi, Argentina, Brasil, China, India, Indonesia, Jepang, Jerman, Kanada, Mexiko, Rusia, Turki, Australia dan Uni Eropa.
Negara -negara ini mempresentasikan 60 persen penduduk dunia, PDB 85 persen dunia, 75 persen perdagangan global.
G20 dibentuk 1999, yang awalnya diprakarsai para gubernur bank sentra. Awalnya belum ada KTT yang dipimpin presiden, hanya setingkat kementerian, dimana pertemuan G20 bertujuan menjaga stabilitas keuangan global.
Selaku penyelenggara Indonesia memiliki kewenangan mengatur agenda pembahasan. Secara garis besar ada dua hal yang dibahas yaitu jalur sherpa dan finance track. Untuk jalur sherpa yaitu membahas umum,tentang pembangunan, ekonomi, kesehatan, energi, pariwisata, perubahan iklim serta lainnya.
Untuk pembahasan Finance track, Presiden Jokowi ingin fokus membahas tiga hal yaitu pertama, pendidikan, kesehatan, dan green ekoinomi. (sur)








