
TABANAN – Bali semakin merana karena pariwisata belum bisa dibuka. Kondisi semakin parah dengan pemerintah kembali memperpanjang PPKM level 4 sampai 9 Agustus mendatang. Perpanjangan berjilid-jilid ini, dipastikan kunjungan wisatawan semakin sepi, membuat DTW di Tabanan semakin terjepit dan harus tutup kembali.
Sudah sebulan lebih mereka melakukan penutupan obyek wisata sejak 3 Juli 2021 lalu. Sementara biaya operasional untuk pemeliharaan harus tetap dikeluarkan. Belum lagi kewajiban menerapkan Protokol kesehatan sesuai persyaratan CHSE.
“Mau gimana lagi kalau sudah seperti ini. Dengan perpanjangan PPKM Level 4, kami ikut tutup,” ungkap Manager Operasional DTW Ulun Danu Beratan I Wayan Mustika, Selasa 3 Agustus 2021.
Mustika menyebutkan, dampak perpanjangan PPKM pihaknya merugi puluhan juta rupiah. Sebelum PPKM rata-rata 200 sampai 300 pengunjung DTW perhari. Sementara kini harus tutup kembali karena penerapan PPKM level 4, kami semakin merugi.
“Harga tiket Rp 20.000 tinggal dikalikan 30 hari dikali jumlah kunjungan, segitu kami merugi,” sergahnya.
Mustika berharap pemerintah segera memperhatikan kondisi ini. Sektor pariwisata khusus DTW sejatinya dapat berjalan. Apalagi DTW telah menerapkan protokol kesehatan secara ketat, apalagi ada sertifikat CHSE.
“Kapastitas DTW 6 ribu orang sedangkan pengunjung 300 orang. Jadi sangat tidak mungkin ada penumpukan. Apalagi petugas tetap memantau wisatawan saat berkunjung, sehingga kerumunan tetap dicegah,” ungkapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan pengelola DTW Tanah Lot Desa Beraban, Kediri. Humas dan Marketing DTW Tanah Lot Kadek Suarniti juga mengaku tidak dapat berbuat banyak. Pihaknya juga harus menutup obyek selena penerapan PPKM.

“Kami sulit menebak sampai kapan tutup dan kapan bisa buka kembali. Kami tetap ikuti aturan sesuai perpanjangan dengan melakukan penutupan objek wisata,” ungkapnya.
Selama ini sejak penutupan DTW Tanah Lot 3 Juli lalu sampai Agustus ini. Pihaknya selaku pengelola DTW terberat pengeluaran untuk biaya perawatan DTW yang sangat luas. Beban biaya yang rutin keluar adalah biaya listrik dan air dan pembersihan kawasan dan biaya taman. Beban biaya ini selama penutupan diambil dari sisa hasil pendapatan dari kunjungan DTW sebelum PPKM.
“Tapi mau sampai kapan kami mampu bertahan, biaya operasional sangat besar untuk pemeliharaan dan gaji karyawan harus terus dikeluarkan,” ujarnya.
Menyiasati kondisi saat ini dengan perpanjangan untuk menghemat pengeluaran. Pihaknya selaku pengelola melakukan perawatan DTW yang sifatnya penting. Untuk karyawan dipekerjakan selama sebulan hanya 12 hari saja bergantian, agar semua tetap kerja meski tidak full sebulan.(jon)








