
DENPASAR – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat dinilai belum mampu menggantikan peran manusia dalam industri hospitality Bali. Bagi pelaku sektor housekeeping, pelayanan yang mengedepankan sentuhan personal dan keramahan tetap menjadi kekuatan utama pariwisata Pulau Dewata.
Pandangan tersebut mengemuka dalam International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang diselenggarakan Badan Pimpinan Daerah Indonesian Housekeepers Association (BPD IHKA) Bali di Prime Plaza Hotel Sanur, Jumat (5/6/2026).
Mengusung tema “From Tradition to Transformation”, konferensi internasional ini menjadi forum diskusi mengenai peluang dan tantangan penerapan teknologi AI serta otomatisasi dalam operasional housekeeping di industri perhotelan.
Ketua BPD IHKA Bali, I Gede Cahaya Adi Putra, mengatakan perkembangan AI memang tidak bisa dihindari. Namun, penerapannya di Bali harus mempertimbangkan karakter industri pariwisata yang mengutamakan interaksi langsung dengan wisatawan.
“Hospitality di Bali sangat mengandalkan sentuhan manusia. Teknologi bisa membantu pekerjaan tertentu, tetapi pelayanan kepada tamu tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh robot atau AI,” ujarnya.
Menurut Cahaya, sejumlah teknologi otomatisasi sudah mulai digunakan dalam operasional housekeeping, seperti mesin pembersih lantai otomatis. Meski demikian, pengelolaan jadwal kerja, pengawasan kualitas layanan, hingga pengambilan keputusan tetap membutuhkan peran manusia.
Ia mencontohkan Jepang yang telah mengembangkan layanan hotel berbasis AI mulai dari penyambutan tamu hingga proses check-in. Namun konsep tersebut dinilai belum sesuai diterapkan secara penuh di Bali.
“Wisatawan datang ke Bali bukan hanya untuk mendapatkan fasilitas, tetapi juga pengalaman pelayanan yang hangat dan personal. Itu yang menjadi nilai lebih kita,” katanya.
Senada dengan itu, Dewan Pembina IHKA Bali sekaligus Ketua Harian Badan Pusat IHKA, Nyoman Sugiarta, menegaskan bahwa sumber daya manusia tetap menjadi aset utama industri pariwisata Bali.
Menurutnya, meskipun teknologi terus berkembang, pelayanan dengan hati dan pendekatan personal kepada tamu masih menjadi daya tarik yang sulit ditiru oleh sistem otomatis.
“AI penting untuk mendukung efisiensi kerja, tetapi pelayanan yang tulus dan perhatian terhadap detail tetap harus dilakukan oleh manusia. Itu yang menjadi selling point pariwisata Bali,” tegasnya.
Melalui konferensi ini, IHKA berharap para profesional housekeeping mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan peningkatan kualitas pelayanan. Sinergi antara inovasi dan profesionalisme dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya saing industri pariwisata Bali di tengah persaingan global.
Apresiasi juga disampaikan Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace). Ia menilai housekeeping merupakan salah satu garda terdepan yang berperan besar dalam membentuk pengalaman wisatawan selama menginap di hotel maupun menikmati layanan restoran.
“Persaingan pariwisata semakin ketat. Karena itu peningkatan kompetensi, sertifikasi, dan profesionalisme tenaga housekeeping sangat penting untuk menjaga kualitas layanan Bali,” ujarnya.
Konferensi internasional ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan negara ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. Selain konferensi dan pameran, kegiatan juga diramaikan dengan Bed Making Competition yang diikuti 34 hotel dan 15 sekolah perhotelan, termasuk peserta dari luar Bali dan Filipina. (sur)








