
KARANGASEM — Wilayah Kecamatan Kubu, Karangasem, tak hanya tandus. Masyarakat di lereng timur Gunung Agung itu juga sempat kesulitan mendapatkan air bersih.
Tak mau terpaku dengan keadaan, perangkat Desa Sukadana membuat inovasi dalam pemenuhan kemandirian air minum bagi masyarakat dengan mencari sumber mata air kemudian dialirakan ke reservoar (PAM Desa) yang dibangun melalui anggaran dana desa (ADD).
Perbekel Desa Sukadana I Gede Suardana mengatakan, pemenuhan air minum masyarakat masih terus berlanjut sampai sekarang. Dalam APBDes tahun 2021, dianggarkan pemenuhan kebutuhan air minum bagi 170 KK yang tersebar di tiga Banjar Dinas yaitu Bukit, Lebah dan Mekarsari.
“Sebagaian besar air PAM Desa yang kami bangun sudah bisa dinimati masyarakat. Sedangkan beberapa masyarakat yang belum terlayani akan terus kami genjot sehingga 987 KK juga bisa mendapatkan air bersih,”ucap Suardana pada Kamis 6 Mei 2021.
Pembangunan PAM Desa, kata Suardana, merupakan hasil pemikiran Kepala Badan Perwakilan Desa (BPD) Desa Sukadana I Nyoman Putu Binarsa bersama Kepala Wilayah Bukit I Nengah Sueca, Kepala Wilayah Lebah I Nyoman Gomboh, dan Kepala Wilayah Mekarsari Ni Ketut Krisnayanti.
“Menunggu aliran air telaga waja terlalu lama. Astungkara, harapan kami membangun kemandirian air minum masyarakat terealisasikan. Artinya, dengan adanya PAM Desa ini, masyarakat kami tidak lagi mengeluhkan air minum seperti yang dialami sebelumnya,”ujarnya.
Sebagai bentuk kemandirian, PAM Desa tetap dijual kepada masyarakat di desanya. Selain untuk pemeliharaan reservoar, juga menggenjot pendapatan asli desa (PAD). Sebelum ada PAM Desa, masyarakat membeli air minum Rp 200.000 per tangki. Dengan adanya PAM Desa, harganya jauh lebih murah yaitu Rp 7.000 per kubik.
“Yang pasti dengan adanya PAM Desa ini, masyarakat kami tidak lagi mengeluh kekurangan air. Air yang kami jual ini tujuannya untuk membantu pemeliharaan alat (reservoar) dan sebagai sumber pendapatan baru kami di desa,” tandas Suardana. (wat)








