
BADUNG – Beroperasi sebagai sekolah SPK ternama di Bali, Bintaro, dan Kelapa Gading, tiga sekolah Selama25 tahun,kini resmi bertransformasi dengan mengusung identitas Veritas Intercultural School (VIS). Perubahan nama menjadi VIS ini efektif mulai Tahun Ajaran 2026/2027.
Peluncuran nama baru ini digelar berbarengan di VIS Bali, Bintaro, dan Kelapa Gading. Untuk di Bali, acara dilaksanakan di VIS Bali, Jl. Muding Indah X, No. 9, Kerobokan Kaja, Badung. Acara juga dihadiri Wakil Bupati Badung, Bagus Alit Sucipta dan istri, Yunita Oktarini.
Menurut Principal of VIS Bintaro, Winy Trianita, perubahan identitas ini mencerminkan visi pendidikan yang menekankan pembelajaran berbasis inkuiri, pemahaman lintas budaya, serta pengembangan karakter dan kompetensi global.
Veritas Intercultural School berkomitmen menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang berintegritas, berpikiran terbuka, peduli terhadap sesama, dan siap berkontribusi di masyarakat global.
Ia mengatakan transformasi ini merupakan langkah penting dalan memperkuat arah pendidikan yang berpusat pada perkembangan peserta didik.
“Perubahan menjadi Veritas Intercultural School merupakan wujud komitmen kami untuk terus berkembang dan menghadirkan pendidikan yang relevan dengan tantangan masa depan. Kami
ingin setiap peserta didik tidak hanya memiliki prestasi akademik yang baik, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang berintegritas, memiliki rasa ingin tahu, mampu berpikir kritis, dan siap memberikan dampak positif di manapun mereka berada,” ujarnya.
Nama Veritas, yang berarti kebenaran, mencerminkan nilai kejujuran, integritas, keberanian berpikir kritis, dan semangat belajar sepanjang hayat. Sementara itu, Intercultural merefleksikan keyakinan bahwa pembelajaran terbaik lahir dari interaksi dengan beragam budaya, bahasa, dan perspektif.
Melalui lingkungan belajar yang inklusif, peserta didik didorong untuk membangun empati, menghargai perbedaan, serta berkembang menjadi warga dunia yang bertanggung jawab.
Sebagai bagian dari transformasi ini, Veritas Intercultural School mengimplementasikan International Baccalaureate (IB) sebagai kerangka pendidikan yang selaras dengan visi sekolah dalam membentuk peserta didik yang siap menghadapi tantangan global.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri (inquirybased learning), IB mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif, serta menjadi
individu yang berintegritas, berpikiran terbuka, dan peduli terhadap sesama.
Pendekatan holistik ini membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang diperlukan untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Memperkuat makna transformasi tersebut, Intan Yuli Bhestari dan Gusti Wayan Bayu Wedananta Alit Putra, School Director Veritas Intercultural School Bali, mengatakan perubahan ini merupakan penegasan arah pendidikan yang ingin diwujudkan oleh sekolah.
“Transformasi ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan penegasan arah pendidikan yang kami bangun. Kami ingin setiap peserta didik memiliki keberanian untuk bertanya, kemampuan untuk beradaptasi, serta kepedulian untuk menjadi bagian dari solusi di tengah dunia yang terus berubah,” kata Intan.
Ditambahkan MYP & DP Principal of VIS Bali, Ni Putu Yunita Kurniawati, salah satu bentuk keunikan tersebut tampak pada program di VIS Bali yang mengembangkan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) serta integrasi kearifan lokal (local genius), seperti pembelajaran bahasa Bali dan kegiatan budaya lokal yang selaras dengan arahan pemerintah daerah.
Pengembangan program kewirausahaan di tingkat menengah atas (SMA) bertujuan untuk mencetak generasi muda yang mandiri dan berani mengambil risiko (risk-taker). Program ini tidak sekadar mengajarkan cara menghasilkan uang, tetapi juga melatih kemampuan analisis SWOT, kreativitas, serta kolaborasi tim.
Pihak sekolah menekankan bahwa pembelajaran kewirausahaan diharapkan dapat berlanjut secara berkesinambungan, bahkan setelah siswa menyelesaikan masa studi mereka.
Keberhasilan program ini terbukti dari berbagai penghargaan nasional dan internasional yang telah diraih oleh para siswa.
Sementara itu, Pengawas SMA Kadiskpora Bali, Ni Wayan Deny Jiandari, mengatakan kurikulum internasional yang diterapkan di VIS terintegrasi dengan baik dengan aturan pemerintah, khususnya terkait struktur kurikulum yang mencakup kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Seluruh data siswa dan tenaga pendidik juga telah terhubung dengan sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbudristek untuk memastikan legalitas dan kepatuhan prosedur administratif.
Sementara itu, Konsultan Pendidikan Internasional, Tarek Razik, memberikan pandangan mengenai sistem pendidikan di Indonesia secara umum. Ia menilai Indonesia memiliki potensi untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
Namun, sistem pendidikan perlu diubah sehingga potensi itu bisa dikembangkan secara maksimal. Menurutnya, sistem pendidikan lama kerap berfokus pada “kontrol”—di mana siswa duduk rapi dalam barisan dan guru mendikte informasi untuk dihafalkan dalam ujian.
Menurut Tarek, model pendidikan masa kini harus berani melepaskan pola kontrol tradisional tersebut untuk memberi ruang bagi siswa berpikir kreatif dan mandiri.
“Sistem sekolah lama sangat berorientasi pada kontrol. Namun saat ini, kita tidak lagi meminta anak-anak sekadar menghafal, melainkan menuntut mereka untuk berpikir kreatif. Untuk itu, kita harus menyediakan kesempatan agar mereka bisa melakukannya,” tegas Tarek.
Tarek juga menekankan pentingnya komitmen politik dan alokasi prioritas anggaran yang kuat dari pemerintah Indonesia terhadap sektor pendidikan. Ia pun mencontohkan yang dilakukan oleh negara-negara tetangga di Asia Tenggara dan Asia Timur, seperti Korea dan Jepang, dalam penyediaan anggaran pendidikan. (*)








