
DENPASAR – Lima penjor hias berukuran raksasa berdiri megah di depan Pura Dalem Serangan, Denpasar, Kamis (25/6/2026), menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang melintas. Penjor-penjor tersebut merupakan hasil kreativitas para yowana (generasi muda) dari lima banjar di Desa Adat Serangan yang mengikuti Festival Penjor Desa Serangan.
Kelima banjar yang ambil bagian dalam festival tersebut yakni Banjar Ponjok, Banjar Kaja, Banjar Kawan, Banjar Peken, dan Banjar Dukuh. Melalui festival ini, para yowana diberikan ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menjaga warisan seni budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun.
Jro Bendesa Adat Serangan, I Nyoman Gede Pariartha, mengatakan kegiatan ini menjadi salah satu upaya melibatkan generasi muda dalam pelestarian budaya Bali.
“Festival ini memberikan wadah bagi para yowana untuk berkarya dan berinovasi dalam melestarikan seni budaya Bali. Antusiasme mereka sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dari enam banjar yang ada di Serangan, hanya lima yang dapat berpartisipasi tahun ini karena Banjar Tengah berhalangan mengikuti perlombaan.
Festival Penjor juga menjadi bagian dari rangkaian menyambut Pujawali Pura Dalem Sakenan yang bertepatan dengan Hari Raya Kuningan. Menurut Pariartha, lomba tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga dan mendapat sambutan yang semakin meriah dari para peserta.
“Para yowana bahkan rela bekerja hingga larut malam untuk menyiapkan penjor terbaik yang akan dipersembahkan dalam festival ini,” katanya.
Ia menambahkan, terselenggaranya festival tersebut tidak lepas dari dukungan PT Bali Turtle Island Development (BTID) yang sejak awal menjadi penggagas kegiatan. Desa Adat Serangan turut memberikan dukungan penuh karena pembuatan satu penjor membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan mencapai lebih dari Rp5 juta.
Sementara itu, Kepala Departemen Komunikasi BTID, Zefri Alfaruqy, mengatakan Festival Penjor telah menjadi agenda rutin yang digelar setiap tahun dalam tiga tahun terakhir.
“Festival ini merupakan bentuk kolaborasi antara BTID dan Desa Adat Serangan untuk menyemarakkan Hari Raya Kuningan sekaligus Pujawali Pura Dalem Sakenan,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal, BTID mengalokasikan dana sekitar Rp50 juta untuk penyelenggaraan festival tersebut. Selain itu, panitia juga menyediakan hadiah bagi para pemenang sebagai apresiasi atas kreativitas dan kerja keras para peserta.
Melalui Festival Penjor Desa Serangan, semangat gotong royong, kreativitas, dan kecintaan generasi muda terhadap budaya Bali terus tumbuh, menjadikan tradisi penjor tidak hanya sebagai simbol religius, tetapi juga sebagai karya seni yang memperkuat identitas budaya Bali. (*)








